Sabtu, 31 Desember 2016

Penghujung Desember

Detik hari menuju tahun berganti, aku kembali menyusur setapak jalan kecil. Jalan yang dulunya ku habiskan berdua olehmu dan tangan jahil kita yang saling mencolek pipi.

Mengingat itu betapa mesranya kita dulu, betapa bahagianya rasa memiliki seseorang sepertimu. Tak ada yang mampu mengalahkan senja ketika kita berpadangan di hadapan langit yang menyorot keindahannya berjuta warna.

Saat rambutmu beracak acakan diterpa angin, saat mata kita tak lepas menatap hingga ke sanubari hati.
Ketika itu aku tanggalkan namamu seluas luasnya perasaan ini. Sedalam dalamnya diri ini yang terus kau racuni lewat caramu yang meluluhkan hati.

Desember terlalu banyak memberiku cerita; juga kenangan yang tak pernah ku biarkan begitu saja.
Memang, daun yang gugur pada masanya terlihat indah, namun jika seseorang yang telah ku tempatkan dengan amat berarti haruskah ia pergi?

Lantas kau bisa lupa dengan segala hal yang kita lalui bersama semudah ini?
Tolong, jangan pernah kau buat aku harus merindu sejadi jadinya.
Aku hanya tak sanggup melawan luka saat ingatan tentang mu menguat dikepala.

Tempat yang biasa kita sambangi telah berganti sosok, jalan yang pernah kita lalui sudah semakin sepi. Ia hanya meninggalkan beribu cerita yang mengantarkan ku pada luka.

Aku ingat ucapan mu selepas kau menghangatkan bibirku, kau bilang
"Jika tangkai yang patah, kamu masih memiliki daun yang utuh untuk kau jaga."

Lalu ku tanya, apa maksud semua itu lalu kau jawab:
"Jika ada seseorang yang membuatmu kecewa nanti, kamu masih memiliki hati untuk kau berikan kepada yang menunggu mu dengan segala pengorbanannya yang begitu besar."

Mataku berkaca kaca—kau bilang beribu maaf yang sempat membuat airmata ku tak terbendung.
Hingga saat itu aku tak ingin melepas pelukanmu.
Jujur, begitu sesaknya saat kamu berusaha menguatkan ku untuk tak lagi memperhatikanmu—untuk tak lagi ada disetiap harimu yang selalu ku sambut dengan sangat bahagianya.

Kau melepasku saat besar harapanku untukmu, saat dalamnya perasaanku. Kau tenggelamkan aku seketika itu juga. Membuat ku masuk ke jurang lebih dalam dipenuhi luka.

Perhatianmu yang selalu membekas, senyuman yang kau gariskan begitu manis serta hal sederhana yang mampu membuatku tertawa kini terhempas.
Terseok bersama namamu yang tak bisa lagi ku miliki.

Desember tepat memberiku seseorang yang begitu berarti. Seseorang yang pernah ada dan membuatku susah melupakannya.
Ia masih tetap ada untuk sebagian rasa yang pernah tumbuh. Ia masih ada sebagai penghantar rindu sesekali tiap malam ku.

Desember yang kini, aku tak lagi menemukan itu semua. Hanya angan ku saja yang terus berputar merekam kisah kita lalu sekejap menghilang. Lalu seseorang menepuk punggungku dan mengajakku meninggalkan tempat itu.

Tempat yang dulu kau berikan sebagian hatimu untukku. Namun, kenyataan berkata kita tak lagi bersama.
Dan kini, biarlah semuanya tetap hidup meski berbeda. Kau dengan seseorang yang baru, dan aku dengan seseorang yang telah kutemui.

Kita hanya kisah yang pernah tercipta lewat tatap mata, dan berakhir dengan hati yang tak lagi sama.

Terima kasih untuk desember kala itu.

( Randit Firmansyah )

Sabtu, 24 Desember 2016

Tanpa judul part III

Malam ini, ribuan fikiran tentang kamu masih enggan beranjak pergi, ini sama seperti malam saat kamu mulai memutuskan pergi dari hidup saya.

Tak sedikit tindakan kecil yang perlahan mulai saya biasakan, tidur tanpa ucapan dari mu misalnya, namun ketika jiwa saya ingin memberontak, kembali teguran kecil muncul dari diri saya bahwa tak ada hak saya pada dirimu.

Bukan mudah untuk melupakan, dimana dulu kamu selalu dekat. Kamu yang selalu memberi kabar seolah saya bagian penting dihidupmu, kamu yang selalu ingin kita bersama, serta kamu yang selalu ingin tahu apa yang saya lakukan.

Hingga pada saatnya saya harus tahu, kamu sudah tak seperti dahulu. Entah siapa yang harus saya salahkan, entah hujan yang mengguyur bersama perasaanmu, ataukah angin yang menyapu seluruh hatimu. Tetapi jika kembali menyalahkan waktu rasanya tak adil.

Seperti
cahaya yang tergantikan gelap
senja yang tergantikan rembulan
matahari yang tergantikan bulan
dan aku yang tergantikan olehnya.

Kini sang mentari dan bintang pun tak akan mampu memungkirinya. Bahwasannya hati ini enggan menerima kepergianmu, mungkin saya terlalu berdusta. Tetapi tanpa perlu kamu tahu melupakan semua yang pernah dirajut tidaklah mudah.

Sudah berkali-kali saya menjahit kembali puing-puing kenangan agar sama seperti sebelumnya,
sudah berkali-kali saya coba menyapa mu, namun bukan balasan yang saya terima, bahkan untuk melihat pesan saya saja kamu enggan,
sudah berkali- kali pula saya mengobati sendiri sakit yang telah kamu torehkan dan hujan yang mengalir dipelupuk mata tak mampu dihindarkan

Namun sepertinya tusukan jarum jahit itu tak akan sanggup melukiskan pedihnya saya tanpamu, kali ini biarkan saya yang merasakan seluruh sakit ini.

Mungkin benar yang tuhan titipkan  pada burung untuk disampaikan melalui hati saya, bahwa sudah tak pantas diri ini bertahan padamu. Karena pada kenyataannya, langkah kecil kebelakang dan perasaan bernama ikhlas lah yang saat ini harus saya lakukan. Bukan maksud hati ingin menyerah tetapi sudah tak pantas lagi saya mencintaimu, atau maaf sekedar berharap denganmu

Terima kasih teruntuk cinta yang sudah tak lagi ada, dan rindu yang selalu menemani.

Selasa, 20 Desember 2016

Tanpa judul part II

Ada waktu dimana kita harus membiasakan diri tanpa rasa apapun.
Kau yang menjauh dengan sangat jauh, dan aku yang kini selalu membenci keadaan saat tak ada yang bisa ku percaya lagi.

Sejenak, aku mencoba memahami hal-hal yang dulu pernah kau lakukan padaku.
Kala pertama kau buat aku begitu yakin dengan perasaanku.

Kau berhasil. Lewat caramu aku menaruh hati tanpa ku pikir dua kali.
Hingga terasa amat dalam membuatku tak ingin berjauhan ataupun kau tinggal pergi.

Tapi, kecewa terlanjur hadir saat harapan yang ku susun dipatahkan sebegitu mudah.
Sepucuk pesan kau utarakan menghujam luka dari sudut yang berbeda.
Membuatku akhirnya jatuh pada kenyataan sakit tak terkira.

Jika tiada harap lagi perasaan untukmu
aku ingin kenangan itu tetaplah sempurna
bersama dengan segala pilu
yang kau suguhkan lewat pahitnya sebuah luka.

Biarlah hal yang lalu hanya sekedar pengingat
bahwa kau pernah mengisi ruang di dada—juga pernah singgah meski aku ditinggal begitu cepat.

Mengulang bahagia mungkin sudah tak lagi bisa,
karena pada akhirnya kau telah mampu
melupakan ku lebih dulu.
Membiarkan rindu memulangkan kisah kita
Pada tempat yang lebih jauh.

Hingga aku yang tak kau lihat lagi,
kini harus memulihkan hati yang telah patah.
Sebisa mungkin agar tak ada rasa kembali—meski nyatanya aku tetaplah mudah
mengucap namamu dalam setiap doa.

Supaya kau tahu, bagaimana sulitnya aku lupa
dengan semua hal tentangmu yang memilih untuk tetap ada.
Saat kau tak bisa lagi ku nanti,
sesuatu yang menyisakan perih terus kau bawa.
Dalam setiap ingatanku padamu yang terlalu membekas pada diri ini.

Sekarang, masing-masing dari kita seakan saling menjadi orang asing.
Pertemuan sesering dulu tak pernah lagi terjadi.

Sekarang, kau dan aku mungkin saja berpura pura sibuk agar terlihat siapa yang paling bahagia diantara kita.

Walaupun nyatanya aku masih saja sering memperhatikanmu diam-diam tanpa kau ketahui.
Semoga dengan melepasku kau mampu temukan yang lebih baik dan bisa lebih membuatmu bahagia.

Sabtu, 17 Desember 2016

Kenapa datang lagi

Halo, apa kabar?
Untuk apa kamu datang lagi?
Membeberkan semua kenangan atau menertawaiku yang ketahuan menyimpan rindu?

Ah, kamu terlalu abu-abu.
Membingungkan, sehingga aku membuat hipotesa baru.
Sampai kapan kamu di sini?
Mau menorehkan luka lagi ya? Di hati yang sebelah mana? Aku beritahu saja, tak ada ruang kosong di hati ini lagi untuk kamu torehkan luka.

Lebih baik kamu pulang, sebelum senja membutakan pandangan.
Apa kamu bilang?
Kau ingin mengajakku berpulang denganmu?
Lucu sekali leluconmu, lalu di mana kekasihmu yang itu?

Mau tau sesuatu tidak?
Kau taukan hati itu ibarat kayu usang? Kau sentuh saja sedikit ia rapuh dan tak akan kembali ke awal mula,
Nah seperti itulah aku, memang kau tak begitu lama meninggalkanku, tapi, waktu tetaplah waktu.
Kamu titipkan aku bersama waktu, memang aku tak sendiri tetapi itu yang membuatku terasa mati, dia mengajak kawannya, memperkenalkanku kepada rindu!

Cukup sampai sini saja, aku tak ingin malam mengusikku dengan memberitahu bahwa rindu sudah ada di ambang pintu, lagi.

Tolong, jangan mengacaukan hati, lagi.
Biarkan saja dia merelakan, toh sebentar lagi penawarnya akan datang, tetapi, maaf, itu bukan kamu.

Kamis, 15 Desember 2016

Memoar yang Terkapar Di Sudut Memori



[Januari]
Kau kembali. "Apakah kau 'kan pergi lagi?" tanyaku, lirih. Gelenganmu memeluk risau di lubuk hati. Kau tersenyum, ragaku menggigil dalam sepi.

[Februari]
Kau acuh, aku terjatuh. Aku terjebak dalam asaku yang jauh. Tak sangka aku, kau tikam habis rasaku yang luruh.

[April]
Kucoba berlari, meski tertatih. Kutilap senyumku dalam perih. Cinta bertahan, di bilik angan yang mulai letih.

[September]
Kau lempar senyum itu lagi. Aku tak mengerti, bagaimana senyum itu serupa sinar mentari pagi. Kau menghampiri, tawarkan harap di sela-sela anergi.

[Oktober]
Kusadar hadirmu begitu bermakna. Usahaku untuk melupakanmu seketika sirna.

[November]
Hujan turun tak kenal waktu. Ceracau menumpuk ungkapkan rindu. Petrikor terhirup bawa aromamu. Bayangmu hadir serupa candu.

[Desember]
Kau melewatiku. Di sebelahmu, kau gandeng dia yang picing matanya menghujamku. Alunan elegi iringi kepergianmu, dan aku tersenyum kaku. Bentengku rapuh, asaku runtuh. Cintaku utuh, aku terpaku.

Minggu, 11 Desember 2016

Berterima kasih padamu

Aku berterima kasih padamu—karena berkatmu aku paham seperti apa dicintai.
Aku juga tak bisa menutup kemungkinan, bahwa memang kau begitu memberiku banyak cerita, canda dan tawa.

Kita rangkum semua itu menjadi kisah yang terus ku bawa entah sampai kapan.
Pernah sesekali aku berucap, jika kamu buat ku bahagia terus menerus apa kamu yakin akan seterusnya seperti ini? kamu memilih bungkam.

Ketika aku berandai terlalu tinggi, dinding kepercayaan yang ku bangun untukmu tiba tiba terjatuh dengan puing kekecewaan.
Ya, semua yang kamu berikan—yang selalu membuatku merasa istimewa dan berharga, harus kamu hempaskan dengan sangat jauh.

Akupun tak paham bagaimana kamu bisa merubah harapanku yang sedemikan rupa menjadi hal yang sangat ku takuti; ketika aku akhirnya kehilangan kamu.

Mungkin, hatimu belum bisa melihat semua hal yang tulus. Kamu hanya tahu bagaimana membuatku senang, nyaman lalu kamu bisa seenaknya pergi dan melewatkan ku begitu saja.

Ketika malam, aku sering menatap langit lalu mengajukan pertanyaan padanya. Apa harus dengan bintang dan bulan agar aku bisa terus melihatmu terang? padahal kau diatas sana terlihat gelap.

Saat perasaan ku benar benar tak ada yang menerangkan, aku merasa gelap layaknya langit tanpa ada bulan dan bintang.
Seseorang yang sempat membuat hidupku kembali mempunyai harapan sudah memilih untuk tetap pergi.

Aku hanya ingin lupa dengan hal yang membuatku harus bersusah payah menahan airmata yang mudah menetes.

Ketika aku menjaga benda pemberianmu, aku ingat kamu,
ketika aku sering menunggu pesan mu yang datang ternyata itu bukan darimu,
saat aku ingin menghubungi mu lebih dulu ego ku menahan dengan sangat tinggi, pun ketika aku mengunjungi tempat yang biasa kita habiskan berbincang,
kenangan mengulang semuanya dalam ingatan.

Lelah terus mencari sesuatu yang tak mungkin kembali, kadang membuatku ingin menyendiri lebih lama.
Padahal, seseorang di belakangku sedang berusaha memberikan payung ketika perasaanku dihujani luka tanpa henti.

Aku masih sangat terngiang hingga mengabaikan seseorang yang perhatiannya begitu besar melebihi dirinya.
Maafkan aku, aku hanya lemah pada diri sendiri. Karenanya aku terus dibuat ingat.

Bertahan dengan keadaan yang tak kita inginkan kadang menuntut kita untuk membenci diri sendiri.

Sudahlah, dia sudah beranjak dengan kebebasannya.
Sudahlah, sekarang perhatian yang dulu kamu berikan begitu banyak hanya pemanis diawal.
Aku terlalu mengharapkanmu terlalu jauh hingga aku tak sadar kenangan yang membekas padaku kamu buang agar tak adalagi hal yang tersisa dari diriku.

Sekarang, aku hanya perlu mengikhlaskan semuanya bahwa, sesuatu yang hilang hanya sekedar pengingat dari apa yang pernah kita rasakan.

Dulu, sekarang, dan entah sampai kapan luka itu masih bersamayam dalam dada; juga hati yang kamu buat kecewa ini akan terus ingat pada siapa yang telah membuatnya retak dan patah.

Aku hanya perlu mencintai diriku sendiri. Kemudian aku akan paham, seseorang seperti apa yang harusnya aku pilih agar nanti rasa sakit ini tak harus kembali hadir.

Sabtu, 03 Desember 2016

Dulu - kita

Kamu dan aku adalah dua orang manusia yang tak pernah mempercayai kebetulan. Kita meyakini bahwa semua memiliki polanya sendiri. Memiliki jalan dan menciptakan takdirnya sendiri.

Dulu, kamu dan aku, kita sama-sama tidak percaya akan cinta. Cinta hanya ada dalam khayal manusia, untuk menutupi segala kebusukan dunia. Mempermanis sesuatu yang sebenarnya pahit. Cinta tercipta dari ketakutan untuk menghadapi kenyataan.

Hingga tanpa sadar, kamu dan aku, sama-sama terhempas begitu dalamnya. Kita berdua mengutuki kebetulan itu. Menyesali kelengahan kita hingga menyebabkan perasaan terkutuk bernama cinta itu bisa singgah.

Aku,
melihatmu jauh diseberang sana. Ditengah ribuan tanda-tanda bahaya, tanda pengingat untuk menyadarkanku bahwa rasa ini tak seharusnya ada.

Penghalang itu begitu tinggi menjulang. Dari awal, kita tahu jika kita memang saling jatuh cinta meski mustahil untuk bersama.

Bodohnya aku,
yang lebih memilih untuk memanjat,
sedangkan kamu
lebih memilih
untuk
beranjak.
.
.
.
.


"Ia merayakan hari raya nya, dan saya merayakan yang lainnya. mungkin itu alasan kenapa ia menyerah dan kami tidak lagi bersama..."

Sesederhana itu.


Kamis, 01 Desember 2016

Shit

Dulu saat kamu mengatakan kata berpisah dan aku hanya diam, berpikir apakah aku melakukan kesalahan terhadapmu.

Saat kamu menyuruhku untuk mencari lelaki yang lebih baik darimu dan aku hanya diam, berpikir seolah-olah itu adalah hal yang sangat mudah untuk kulakukan.

Saat ku dengar bahwa kamu berpacaran dengan mantan pacarmu tak lama setelah kau putus denganku, seolah olah aku hanya menjadi tempat persinggahanmu untuk sementara.

Kini, setahun telah berlalu, ketika aku sudah bisa melupakanmu, mengubur rasa ini dalam dalam, kamu mengatakan pada teman-temanku bahwa kamu ingin kembali kepadaku dan aku hanya menganggap itu omong kosong.

Saat kamu bersungguh-sungguh mengatakan kepadaku bahwa kamu ingin kembali, maaf, sudah tidak ada ruang di hatiku untukmu lagi. Aku berpikir bahwa ini adalah karma untukmu karena telah menyia-nyiakanku.

Namun kamu tak pernah berhenti untuk mencoba menyakinkanku bahwa kamu bisa membuatku mencintaimu lagi, yang membuat aku berpikir untuk memberimu kesempatan kedua. Dan aku benar benar memberimu kesempatan itu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kamu benar benar menepati ucapanmu itu. Namun selama itu juga aku belum merasakan hal yang dulu kurasakan saat bersamamu.

Aku mengacuhkanmu, tak menghiraukan pesan darimu, tak pernah mengangkat telepon darimu.

Maaf, aku menyakiti perasaanmu, maaf karena aku tak memberi kejelasan pada hubungan ini. Maaf, karena kini kau yang tersakiti.

Apakah karma akan mendatangiku kelak?

Selasa, 29 November 2016

Claudya #1

Claudya #1

Dalam cerita yang terbalut dengan rindu, perasaan menggebu, dan hati yang tak tergambarkan dimulai lah kisah tentang seorang perempuan yang selalu menangis ditemani rindu, ia mengutuk selalu tentang cinta yang dikatakan sebagian orang merupakan suatu yang hakiki, takdir setiap penghuni pertiwi katanya, namun baginya hanyalah sebagian omong kosong dari dunia yang ia tinggali sekarang. Ia tak percaya cinta pada setiap hal yang ada namun ia menangis selalu, kecewa karena cinta. Ia telah melalui banyak kehilangan. Dahulu, ia percaya akan adanya cinta, hati yang berdegup kencang dikala sang pujaan datang, tak dapat terlelap dikala malam menyelimuti dan berbagai hal yang disebabkan oleh apa yang biasa orang-orang katakan.

Ia pernah mencinta begitu dalam, sebegitu dalamnya hingga ia rela melacurkan dirinya dengan waktu, berbagi keluh kesah dengan malam, bercerita siang malam menunggu kantuk mengantar lelap. Pernah suatu malam ia berangan-angan kepada langit-langit kamarnya, seindah apakah cintanya dimasa depan kelak, ia berandai-andai tentang kebahagiaannya bersama sang pujangga pada saat itu, sampai-sampai ia lupa bahwa masa depan bukanlah suatu hal yang pasti. Ia kalap waktu itu, teralun-alun dalam lamunan tentang kebahagiaan yang menurutnya pada saat itu akan segera terwujud. Sampai pada akhirnya sang pujangga yang pernah mengatakan cinta kepadanya berani bermain api bersama seorang perempuan dari kaum antah berantah. Ia terluka seketika, tak percaya apa yang terjadi kala itu, bagaikan ditusuk menggunakan belati berkarat tepat di jantung, sesak terasa sampai tak terasa bulir-bulir air mata mulai turun seketika melengkapi kisah sendu nan pilu milik perempuan yang tersakiti karena rasa kepercayaannya kepada cinta yang dianggapnya suci.

Ia mengutuk tentang semua omong kosong yang dikatakan cinta, meringkuk sesal dirinya pernah mencinta. Tangis adalah temannya sekarang, rindu sebagai tamu tak diundang, dan perasaan yang menggebu antara penyesalan karena telah mencinta dengan rasa benci yang tak terelakkan.

Lagi-lagi, kehilangan merupakan sebab sebagian orang untuk membenci dirinya sendiri, membuat penyesalan tanpa henti yang tak akan ada ujungnya, meratapi sesal karena telah terjebak diantara ruang-waktu yang menurutnya begitu indah namun hanya sesaat sampai pada akhirnya ruang-waktu itu harus ditelan oleh realitas yang begitu pahit nan kejam.

Sekarang hatinya terkunci rapat, membuang jauh-jauh kunci kedalam ruang gelap tak berujung, ia mengubur segalanya yang mengatasnamakan tentang cinta. Mengubur jauh perasaanya kedalam lubang tak berdasar dan menutupnya dengan rasa kecewa yang tak terelakkan.

"Dalam hati saya pernah mencinta, begitu riang saya menyambutnya, berandai-andai tentang bahagia sampai lupa dengan realitas yang siap menghantam keras kapanpun ia mau. Mencintalah jika kau siap hancur, merindulah jika kau siap mati," kata Claudya.

Jumat, 25 November 2016

Malam memuncak dan curang

Saat malam semakin memuncak aku kembali merenung apa saja yang pernah ku lalui, bahkan segala hal tentangmu pun ikut masuk memenuhi seisi kepalaku.

Ketika aku berusaha menjauhkan pikiran tentangmu, aku selalu gagal akan hal itu.
Ternyata namamu masih diberi ruang yang cukup besar di hati ini sehingga sesulit apapun aku berusaha lupa ia tetap tinggal dan menetap mengisi paruparu ku.

Ini sama saja aku terus tertahan pada perasaan yang secara tak sadar perlahan membunuh pikiranku—tanpa kau sentuh tubuhku ini.
Lagi-lagi aku dibuat susah payah melepaskan dirimu.
Perasaan yang kau buat patah, seluruhnya memang patah.
Kau buat hati ini sering mencari kepingannya yang hilang bersama sosokmu.

Aku perlu waktu untuk membenahi semua itu.Tapi, sebab ada hal lain yang tak bisa ku hapus—saat kenangan kita berputar begitu saja diatas kepalaku.

Saat kita makan berdua, tak sengaja makananmu menempel didagu lalu kubersihkan, saat hujan menjatuhkan rintiknya dengan deras—ketika itu kita berlarian mencari tempat berteduh.

Kau tersenyum kala itu, kau memberi ku jaket untuk menjadi pelindung satu satunya agar tubuh kita tak basah.
juga pada saat hari dimana aku bertambah usia—kejutan kue dan kado serta kasih sayang yang kau tunjukkan begitu besar kala itu.
Ketika aku merasa saat itu kau menjadi orang yang paling membuatku merasa berharga.

Hal semacam itulah yang membuatku meneteskan dengan sendirinya. Ketika aku benar benar tak bisa lagi mengulang semuanya.
Bahkan untuk saat ini saja kita tak berkomunikasi apapun tentang kabar.
Aku hanya bisa melihat setiap update mu di sosia media.
Aku hanya melihat aktivitasmu dari situ. Ingin sesekali aku berkomentar namun aku takut kecewa menimpa ku untuk kedua kali.
Dan kembali membuat sebagian dadaku sesak saat aku tahu kau memasang foto berdua sangat dekat, seperti dulu kau melakukannya denganku.

Cukup. Harusnya aku sadar, tak pantas rasanya membiarkan perasaan ini tetap ada dan tumbuh.
Harusnya aku sadar, bahwa hati ini sudah ia lupakan jauh jauh.
Harusnya aku sadar, tak adalagi semua kejutan istimewamu; saat aku sedang membutuhkan sebuah perhatian lebih.

Harusnya aku sadar, aku tak berhak ada disetiap aktivitasmu—saat semua yang kulakukan untuk melihatmu secara tersembunyi.
Harusnya aku sadar, ketika aku bukan lagi yang ia mau. Aku harus menerima pahitnya sebuah rasa cemburu yang berusaha ku tutupi.

Harusnya aku sadar, kenyataan berkata aku hanya sebuah kisah masalalunya yang ia singkirkan.
Harusnya aku sadar, aku harus merelakan semua yang pernah membekas, melepaskan yang begitu berat agar hati ini bisa kembali pulih dari segala luka yang kau biarkan.

Harusnya aku sadar, bahwa bukan lagi namaku yang selalu kau sebut dalam rindu, yang selalu kau jaga perasaannya agar tak pergi.

Harusnya aku sadar, saat aku tak mungkin bisa membuatmu bertahan padaku dan kenyataannya memang hati yang kau jatuhkan diawal, sekarang kau hempaskan begitu jauh bersama duka yang kubawa.

Harusnya aku sadar, dia sudah bukan milikku lagi saat ini.

Untuk yang pernah bahagia namun akhirnya diganjar luka.


Terkadang, kisah cinta ini bagaikan penumpang dalam kereta api.



Ada ribuan orang lainnya di dalam kereta dengan tujuan yang sama yang tidak kau kenal. Kau tidak tertarik untuk mengenal mereka lebih jauh. Kau juga tidak akan tau dengan siapa kau akan bertemu.

Ketika kau menemukan seseorang, kau akan mencoba untuk memberanikan diri menyapanya. Kau mencoba berbasa-basi untuk mengobrol dan bertukar kontak. Kau akan mencari tahu lebih tentang dirinya.

Lama kelamaan, kau terbiasa menaiki kereta itu bersama dengannya. Kau akan membuat janji dengannya, pada jam berapakah dan gerbong manakah kalian akan menaiki kereta. Kau selalu menantikan momen itu.

Ketika tujuan di antara kalian mulai berbeda, kau takkan pernah menemuinya lagi di kereta itu. Ia akan menaiki kereta dengan tujuan yang berbeda denganmu. Tidak ada momen kebersamaan dalam mencapai tujuan itu lagi.

Peron itu kembali hampa tanpanya, kereta itu kembali sunyi tanpanya. Tidak ada lagi penyemangat dirimu untuk tetap fokus mencapai tujuanmu. Tidak akan ada orang yang sama seperti dirinya lagi.

Layaknya kereta, kehidupan akan terus berjalan maju. ada atau tiada dirinya. Ia akan terus berjalan mengantarkan penumpang pada tujuannya. Layaknya kereta, kau tidak bisa memaksa waktu untuk berjalan mundur.

Apakah kau akan mengganti tujuan keretamu untuk menyamai dirinya? Ataukah kau tetap pada tujuanmu yang sama sambil mencari orang lain untuk menggantikan dirinya? Keputusan itu kuserahkan pada dirimu.

Kamis, 24 November 2016

Aku takut.



Takut di kala mataku tanpa sengaja bertemu dengan matamu. Takut pada matamu yang seakan-akan tahu semua rahasia di muka bumi, termasuk perasaanku untukmu.

Takut di kala jarimu menyentuh kulitku. Takut kau menyadari bahwa pipiku merona pada dua detik yang berharga itu.

Takut di kala kau berbisik di telingaku. Takut kau mendengar detak jantungku yang berdegup kencang dan tak beraturan.

Takut di kala kau berdiri di sampingku. Takut jika kau menunduk di saat aku mendongak dan kau menyadari tatapanku yang sepersekian detik terpaku pada bibirmu.

Takut di kala kau memelukku. Takut kau merasakan napasku yang terhenti sejenak saat kedua lenganmu mendekap tubuhku.

Aku ingin kau tahu, tapi aku takut jikalau kau tahu. Aku tak mau kau menyadari betapa inginnya aku mengulang momen saat jam berhenti berdetak dan bumi berhenti berputar ketika aku berada dalam rangkulanmu. Aku tak mau kau tahu betapa inginnya aku berjinjit dan mencium lesung pipimu, atau betapa gatal rasanya jemariku ingin mengusap rambut hitammu. Aku tak mau kau tahu betapa inginnya aku meneriakkan seluruh isi hati yang telah kupendam selama ini.

Tapi… separuh dari diriku ingin kau tahu betapa besar aku menginginkanmu. Betapa besar aku ingin mendengar suaramu saat aku terbangun di pagi hari, dalam dekapanmu. Betapa besar aku ingin wajahmu menjadi yang terakhir kupandang sebelum aku tertidur di malam hari, dalam pelukanmu. Betapa besar aku ingin menyongsong masa depanku bersamamu, meraih cita-cita berdua bersamamu, mengarungi segala tantangan dunia bersamamu. Betapa besar aku ingin mencintaimu, sepenuhnya, seutuhnya, layaknya kau adalah cinta pertama dan terakhirku.

Namun bagaimana bisa aku mencintaimu,
saat kau tak kuasa menahan rasa ingin pulang menemui dirinya yang setia menunggumu?
saat dia tak mampu menahan rindu padamu yang sedang jauh di tanah perantauan ini?

Aku memang bukan orang suci, tapi aku tidak cukup tega untuk merenggutmu dari dirinya. Seberapa besar rasa cintaku untukmu, itu tidak cukup besar untuk merusak ikatan antara kau berdua.

Izinkanlah aku untuk pergi, untuk melangkah mundur dan menyudahi apapun yang ada di antara kita. Aku tidak sanggup jika harus tinggal dan membiarkan rasa ini semakin membara. Aku tak sanggup jika aku harus terus pura-pura tidak mendengar bisikan orang-orang di sekitar tentang status kita berdua. Aku takut. Aku takut kau tahu, dan aku lebih takut kalau dia tahu.

Aku takut menjadi orang ketiga.


Jumat, 11 November 2016

[Sekeras Aku Berjuang Kamu Tidak Pernah Tahu Dan Tidak Akan Mau Tahu]


Sesekali ingin aku rasanya kembali ke masa itu. Masa dimana aku masih sangat malu-malu akan kehadiranmu.

Setiap hari aku selalu menjadi orang paling bahagia hanya dengan membalas pesanmu.
Berbagai cara ku lakukan agar percakapan kita terus berlanjut sampai malam mengawali pagi.

Ketika itu, mungkin kau menganggapku aneh—dengan perasaanku, yang tak ku sangka aku menaruh hati padamu.
Aku berusaha menutupi rasa gugupku ketika membalas suaramu di telepon, menatap sepasang dua bola matamu saat pertemuan kita.

Aku sadar, kau menyikapi itu masih dengan hal biasa bukan seperti yang ku duga.
Aku paham, kau merasa sedikit bingung melihat tingkahku yang gelagapan di dekatmu.

Semua berubah tanpa pernah ku kira.
Lambat laun, aku mengerti kehadiran ku untukmu seakan percuma.
Padahal hati ini telah berhasil menempatkan namamu teramat dalam.
Semua perhatian ku kau abaikan begitu saja.

Balasan pesan yang kau tunjukkan dengan singkat—melemahkan harapanku yang kuat.
Nyatanya aku begitu membosankan bagimu, nyatanya kau tak pernah mengerti saat diriku sedang ingin memulai cerita baru denganmu.

Sayangnya, perasaan tak bisa sepenuhnya ku kendalikan.
Bertahan dengan ketidakpastian,
menyadarkan aku pada kenyataan.
Kenyataan bahwa memang kau tak pernah mau tahu dan memilih berlalu.

Kadang kita terlalu mudah menaruh harapan besar terhadap seseorang yang tak bisa dimiliki.
Hingga ketika dijatuhkan, luka mengganjar kita lewat rasa kecewa.

Andai meyakinkan mu tak seberat ini,
mungkin kita tetap bersama untuk sebuah kisah yang tercipta.
Tak ada yang perlu kau cari,
Sesegera mungkin aku menarik diriku dari perasaan yang ku punya.

Membencimu mungkin sulit bagiku
Karena kenangan tentangmu masih tetap ingin hidup dalam ingatanku.
Jika hatimu memang sekeras batu,
Apalah hati ku yang selalu bisa menerimamu.

Maafkan, aku tak seperti yang kamu mau. Sempurna ku adalah ketika kau bisa menerima perasaan ini.
Maafkan jika memang dengan ku, kau merasa tak pantas.
Aku akan berjalan mundur—mejauhkan perasaan ini untukmu agar luka tak semakin membekas.

Selasa, 01 November 2016

[Meski Aku Tidak Berharap Kamu Pergi]



Saat ini aku merasakan inginku untuk bersamamu tiap-tiap waktu. Biar seluruh penjuru kota kita sapa dengan langkah kaki dan biar helai daun berbisik-bisik mengingat tentang kamu yang menjaga aku tetap padu.

Biar buku-buku lama di perpustakaan ikut menceritakan soal kita, biar nyamuk-nyamuk di beranda bercanda tentang kita. Biar ramai jalan raya menjadi hening dan sepoi senyap menjadi sorak-sorai.

Rasanya aku ingin melakukan segala rutinitasku bersama kamu. Agar aku lebih-lebih menyukai membaca dalam hening dengan kamu di sisiku, agar rangkaian tugasku terasa lebih sederhana di mana bersamamu aku merasa memiliki selamanya. Agar saat mengingat hal-hal sederhana lipurlah laraku, luruhlah senduku.

Aku ingin menyimpan senyummu di sisi-sisi catatan fisika, gelak tawamu dalam dompet merah muda. Maunya aku mengabadikan suaramu dalam saku dan kusebar rengkuhmu dalam bunga-bunga yang tumbuh di kiri kanan setapak rumahku.

Tapi sebagaimana aku dibesarkan untuk siap terhadap segala sesuatu, tiadalah baik menyimpanmu dalam tiap sudut keremangan kota, dalam kopi murah yang kita katakan sebagai robusta. Seharusnya aku menyiapkan tempat untuk sembunyi. Supaya aku bisa lari.

Tidak baik setiap sudut kota mengingat kita bersama-sama. Supaya ada mereka yang tidak bertanya saat aku berkelana seorang diri, supaya mudah aku melewati stasiun yang tidak pernah kutapaki bersamamu atau supaya ringan kepalaku melalui jalan-jalan yang takkan pernah menjadi latar sejarah kamu.

Supaya nanti, kalau-kalau kamu pergi—

akan mudah bagiku menatap beberapa tempat tanpa disusup sepi.


Minggu, 30 Oktober 2016

Merintih;

Lagi-lagi kamu datang, untuk kesekian kalinya, untuk mengadu tentang permasalahan berat yang kamu alami.
Seperti tak ada habisnya ia yang kamu bicarakan, ia yang hilang diambil kenyataan.

Rintihan itu, rintihan rindu yang mendayu-dayu. Rintihan pilu yang membuat ngilu hati jika didengar, Kamu terlalu sakit, terlalu cinta pada ia yang fana.

Kamu belum sadar, ia yang telah pergi tak akan pernah bisa untuk kembali, walau sebentar, itu mustahil.

Kamu terus merintih, berkata rindu pada alamnya, berharap ia dikembalikan. Namun sekali lagi, itu mustahil.

Sayang, lepaskan iya yang pergi, rintihan itu menyayat dirinya disana.

Lihatlah sekitar, terlalu hitam karena kehilangan tawamu, Alam lebih merindukan senandung bahagiamu dibandingkan dengan dirimu yang merindukan keberadaannya.

Wahai kamu, merintih bukanlah jalan satu-satunya untuk merelakan kepergiannya, itu membuat dirinya menderita. Berbahagialah, karena dengan kepergiannya dirimu mendapat suatu kisah paling berharga.

(Randit Firmansyah)

Selasa, 25 Oktober 2016

Bohong

Bohong jika aku tak pernah rindu.
Bohong jika aku tak pernah menunggu.
Bohong jika aku tak mencari tahu tentang kabarmu. Belum ada wanita lain yang bisa memperbaiki, menyembuhkan atau mungkin membuatku jatuh cinta lagi.

Kamu itu bagaikan nadi,
tombol penggerak dan penghenti segala kerja hati. Aku tak peduli lagi dengan gengsi,
aku tak ingin lagi berpura-pura dengan perasaan ini, aku tak bisa lagi berperan seolah-olah jadi yang paling kuat.

Tanpamu,
aku merasa rindu berbincang berdua denganmu, seperti dulu lagi.
Aku rindu mendengar kata-katamu,
yang selalu bisa membuatku tertawa seperti dulu.

Tanpamu,
ada hal-hal sederhana yang kini baru kusadari terasa begitu istimewa. Aku sudah terbiasa dengan serangkaian hari kita yang penuh dengan peristiwa-peristiwa konyol.
Dari caramu membuatku ingin selalu bermanja di sampingmu dengan kau mencubit tanganku dan memukulku dengan canda, walaupun itu terlihat konyol.
Sungguh,
hal itulah yang membuatku selalu rindu padamu.

Dan tanpamu,
yang kurasa hanya hampa. Aku hanya tak ingin jauh, tak ingin membiarkan orang lain mengisi hatimu, membiarkan pria lain mengganti posisiku di ruang pikirmu. Karena yang kuinginkan hanya aku yang dijadikan tempat pertama olehmu.

Aku akan jadi lelakimu, berjuang lagi dan sebisaku takkan melepaskan yang terbaik yang ku punya. Dan mencintaimu, biarlah menjadi rahasia paling khusyuk dalam sujud-ku.

Kamis, 20 Oktober 2016

[Untuk Kamu Yang Telah Hadir Dalam Hidupku]


Aku tadinya bukan siapa-siapa dalam hidupmu, mungkin juga orang asing yang berusaha masuk dan ingin terus menetap dalam pikiranmu.
Disitulah aku mulai mencoba mengartikanmu, memahamimu dengan sagala hal yang ku tahu.

Semua perhatian yang ku lalukan,
ku selipkan secercah harapan—agar kelak kamu menyadari hal itu.
Sejauh detik beranjak menjadi menit,
perasaan ku kian menetap agar ia bisa lebih dalam mengenalmu dan nyatanya itu berhasil.

Betapa bahagianya perasaanku bisa dimiliki seseorang sepertimu.
Mataku tak bisa menolak berpaling ketika dua mata indah berhadapan lurus dengan pandanganku.
Untuk kesekian kalinya, aku lemah pada pandangan seseorang sepertimu—memaksaku agar tidak bisa jauh darimu.

Kamu tau? aku selalu mencari cara agar dirimu bisa kuprioritaskan diantara banyak hal dalam hidupku yang masih butuh pembelajaran.
Tak butuh waktu lama bahwa aku dan dirimu menyatu, membuat rasa nyaman tumbuh perlahan.

Dengan sabar aku belajar banyak hal bahwa sesuatu yang sempurna harus melalui proses yang berliku dan terjal.

Semenjak dirimu mengisi setiap hariku, kegiatanku, bahkan duniaku aku sempat berfikir ingin malas untuk mengerjakan apa-apa tentang apapun.
Kamu tau kenapa? karena duniaku sendiri sudah lebih berwarna dengan adanya dirimu.

Ketika kamu menciptakan ruang yang hangat untuk menjemput rindu, aku selalu menciptakan pertemuan yang hangat pula; agar kamu mau dan selalu menginginkan itu.

Setiap kata yang aku tulis tentang aku-kamu-kita dan begitu seterusnya
adalah rangkaian kisah kita yang tak akan ku lupa.
Aku yakin kamu mengerti, dan ingin semuanya selalu semakin dekat.
Akupun demikian.

Maaf, aku selalu cemas dan khawatir tentangmu.
Aku hanya tak ingin kehilangan kamu.
Maaf, mungkin perhatianku berlebihan.
Aku hanya tak ingin kamu nyaman dengan seseorang selain aku.

Teruslah genggam, jangan berhenti.
Teruslah disini, aku ingin lebih lama bersamamu.

Jika kamu lelah akulah bahu terdepan yang siap untuk merebahkan segala resah.
Jika kamu marah biarlah aku yang mengalah karena aku tak ingin ego membesarkan masalah yang ada.

Jika kamu kecewa akulah yang bersalah karena aku tak ingin sedikitpun melukai perasaan orang yang sangat ku sayangi sama seperti kepada ibuku.
Jika kamu sedih, akulah yang siap mengusap airmatamu agar tak jatuh dan menetes berkali kali.

Denganmu, seluruh tubuh ini akan selalu ada disaat kamu butuh, tetap bisa tegak disampingmu—agar kamu tak perlu khawatir dikala sendiri aku terus menemani; juga melindungi sesuatu yang berharga dalam hidupku.

Perlu kamu ketahui banyak orang yang gagal dengan cintanya karena mereka terlalu mudah mengulang kesalahan pada orang yang sama.

Aku memilihmu bukan karena aku menuntut sesuatu yang lebih terhadapmu, tapi kesederhanaan dan caramu lah yang membuat kamu berbeda diantara banyak wanita diluar sana.
Kamu menjadi pelengkap ketika hati ini kehilangan serpihannya.

Semoga kita semakin kuat untuk badai yang siap menerjang.
Semoga hatimu memanglah tempat yang tepat untuk ku isi. Tetaplah terus ada, untuk setiap cerita yang tak pernah hilang.
Teruslah saling menguatkan dari hal yang bisa memisahkan.
Memilikimu saat ini,
adalah jawaban doaku tiap menjelang pagi.

Jumat, 14 Oktober 2016

[Pertemuan Yang Cukup Singkat]



Perkenalan aku bersama kamu adalah perkenalan lucu. Kita bertemu dengan keadaan baik, sangat baik. Lalu jalani kisah berdua yang membuatku bahagia. Kata-katamu yang sering kamu ucap dan kamu bilang padaku membuatku dengan mudah menaruh hati padamu. Dengan mudah memberikan seluruh kepercayaanku untukmu. Dan dengan mudahnya memberikan seluruh hati dengan tulusnya.

Menjalani kisah indah selama beberapa waktu.

Iya indah,

Hanya saja menurutku. Menurutmu mungkin sebaliknya. Kau datang mengobati luka lama  di hatiku. Namun, tanpa disangka kamulah yang lebih membuat luka di hati ini.

Bodoh...

Bodoh karena aku bisa semudah itu menaruh hatiku dengan tulus kepadamu.
Tulusnya menyayangimu ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan untukku.
Kamu datang memberi banyak harapan, lalu kau meninggalkan aku begitu saja.

Pikir!

Apa kau pikir semudah itukah melupakanmu ?
kurasa kamu tidak akan mau memikirkannya.

Mengapa?

Mengapa aku menaruh perasaan kepada mu?
Seharusnya dari awal kau tak usah datang kepadaku.
Mengapa kau juga memberi perhatian lebih? Mengapa kau membuatku tertarik padamu?
Dan pada akhirnya aku jatuh hati.
Lalu, mengapa kau pergi begitu saja tanpa mengucap kata pamit yang indah ?
Kau menggantung hatiku yang sudah
berandai-andai kau ambil. Menyebalkan!

'Terkadang, pertemuan dan perpisahan terjadi terlalu cepat. Namun, kenangan dan perasaan yang tinggal terlalu lama.'

Rabu, 05 Oktober 2016

[Aku, Kamu dan Dia]



Pertama tak ada yang menduga aku mempunyai perasaan yang sedalam ini. Hanya dengan hal-hal sederhanamu aku begitu tertarik.

Lewat beberapa obrolan kita dalam percakapan, aku selalu menyukai caramu mengajakku berbincang, bercanda dan membuatku tertawa.

Kadang secara tak sadar kamu menghiburku ketika tak ada seseorang yang bisa ku ajak berbagi kesedihan. Kamu berusaha menguatkan aku agar tak semudah itu menyerah.

Lalu, rasa nyaman timbul ketika kedekatan kita sangatlah dekat dan erat—saat kamu memposisikan aku sebagaimana perasaan yang ku punya untukmu.

Kita menjadi dua orang yang tak mau dipisahkan kala itu. Waktu pun ku paksa agar tak berlalu begitu cepat.
Mungkin kamu belum menyadari sepenuhnya perihal sesuatu yang ku pendam; juga yang ku sembunyikan dalam tawa.
Tapi, aku ingin agar kamu mengutarakannya lebih dulu meyakinkan dengan tatapanmu hingga aku benar-benar seutuhnya milikmu.

Lama ku menunggu, kamu malah semakin membuatku serba salah. Dilema menerjangku beberapa kali. Apakah harus lebih dulu aku yang mengatakan daripada harus menunggu membuatku semakin salah tingkah didepanmu.

Akhirnya aku nekat memberanikan diri membuka obrolan selain hal yang sering kita bahas yang nyatanya  tak begitu penting.
Aku menguatkan diriku agar tak ada yang salah ketika aku mengatakan itu.

Tapi ternyata, setelah ku tanya dirimu agar lebih meyakinkanku, Kenyataan menampar ku dengan sangat keras.
Tanganku seakan tak kuat lagi untuk melanjutkan ketikan.
Kecewa datang begitu cepat saat aku baru ingin memulai bahagia.

Ternyata ada seseorang yang lebih dulu kamu bahagiakan,
lebih dulu kamu jaga; juga lebih dulu kamu buat nyaman.

Dia yang telah menempatkan namamu terlebih dulu,
Dia, yang bisa sepenuhnya kamu miliki
Dia, yang berhasil meluluhkanmu sebelum aku.

Sekarang, sudah tak pantas lagi rasanya aku hadir untukmu—untuk setiap hal yang kita punya.
Sekarang aku mundur lebih jauh, menjauhkan perasaan ini.

Jagalah dia selagi kamu masih bersamanya. Dia yang lebih pantas bersamamu bukan denganku.
Dia yang harus kau jaga bukan aku.
Dia yang harus lebih kau lihat lagi perasaanya yang mungkin saja lebih dalam dibanding aku.

Kita tetap ada, namun cerita tentangmu saja yang harus berhenti. Bukan karena aku tak ingin, Hanya saja hatiku tak akan baik merebut kebahagiaan seseorang dengan cara egois teruntuk perasaan ku untukmu.

Airmata yang jatuh adalah bukti bahwa hati telah sepenuhnya berharap. Namun, kenyataan tetaplah harus aku terima agar, aku bisa mengikhlaskan semua yang pernah ada. Supaya luka tak terus menghancurkanku lewat airmata.

30 (Harusnya pergi)

Malam ini, ribuan fikiran tentang kamu masih enggan beranjak pergi, ini sama seperti malam saat kamu mulai memutuskan pergi dari hidup saya.

Tak sedikit tindakan kecil yang perlahan mulai saya biasakan, tidur tanpa ucapan dari mu misalnya, namun ketika jiwa saya ingin memberontak, kembali teguran kecil muncul dari diri saya bahwa tak ada hak saya pada dirimu.

Bukan mudah untuk melupakan, dimana dulu kamu selalu dekat. Kamu yang selalu memberi kabar seolah saya bagian penting dihidupmu, kamu yang selalu ingin kita bersama, serta kamu yang selalu ingin tahu apa yang saya lakukan.

Hingga pada saatnya saya harus tahu, kamu sudah tak seperti dahulu. Entah siapa yang harus saya salahkan, entah hujan yang mengguyur bersama perasaanmu, ataukah angin yang menyapu seluruh hatimu. Tetapi jika kembali menyalahkan waktu rasanya tak adil.

Seperti
cahaya yang tergantikan gelap
senja yang tergantikan rembulan
matahari yang tergantikan bulan
dan aku yang tergantikan olehnya.

Kini sang mentari dan bintang pun tak akan mampu memungkirinya. Bahwasannya hati ini enggan menerima kepergianmu, mungkin saya terlalu berdusta. Tetapi tanpa perlu kamu tahu melupakan semua yang pernah dirajut tidaklah mudah.

Sudah berkali-kali saya menjahit kembali puing-puing kenangan agar sama seperti sebelumnya,
sudah berkali-kali saya coba menyapa mu, namun bukan balasan yang saya terima, bahkan untuk melihat pesan saya saja kamu enggan,
sudah berkali- kali pula saya mengobati sendiri sakit yang telah kamu torehkan dan hujan yang mengalir dipelupuk mata tak mampu dihindarkan

Namun sepertinya tusukan jarum jahit itu tak akan sanggup melukiskan pedihnya saya tanpamu, kali ini biarkan saya yang merasakan seluruh sakit ini.

Mungkin benar yang tuhan titipkan  pada burung untuk disampaikan melalui hati saya, bahwa sudah tak pantas diri ini bertahan padamu. Karena pada kenyataannya, langkah kecil kebelakang dan perasaan bernama ikhlas lah yang saat ini harus saya lakukan. Bukan maksud hati ingin menyerah tetapi sudah tak pantas lagi saya mencintaimu, atau maaf sekedar berharap denganmu

Terima kasih teruntuk cinta yang sudah tak lagi ada, dan rindu yang selalu menemani.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Bertahan walau sulit

Untuk yang pernah bertahan walau sulit,
sadarlah, hatimu jangan terus kau paksa.
Ia mudah rapuh dengan segala hal yang bisa membuatnya jatuh.

Sadarlah, dengan seberapa besar kamu mencintai dan menyayanginya kalau hanya luka yang diterima untuk apa?
Jika hanya membuatmu kecewa, sudahkah kamu lelah? atau malah terus mengalah demi membuatnya tetap ada?

Sadarlah, sudah berapa airmata yang kamu tumpahkan karenanya?
Sementara disana, dia tak pernah mengerti kesedihanmu—tak pernah peduli dengan apa yang kamu alami.

Janganlah melemahkan dirimu seperti itu. Perasaan tak boleh semakin kamu buat hancur.
Tegaskan, bahwa kamu kuat, bahwa kamu tak sebodoh memaafkan kesalahan yang terlanjur membekas.

Memang, sungguh berat melepas begitu saja seseorang yang sudah terlalu kita tempatkan sangat dalam pada diri kita. Namun, sesuatu yang kamu simpan terus menerus lewat tangis juga tak akan baik.

Ketahuilah, bahagia bukan hanya mampu memiliki, melainkan harus kamu sadari.
Seseorang yang tak lagi bisa membuatmu nyaman tak sepatutnya dipertahankan.
Jangan biarkan hatimu terus terluka hanya karena memaklumi sikapnya.

Kamu tak perlu takut kehilangan. Hanya saja ada proses setelahnya yang membuatmu harus lebih siap. Setelah gagal dengan seseorang maka harusnya kamu berfikir sebelum memilih agar tak dijatuhkan dalam kesalahan yang sama.

Hargailah dirimu teruntuk juga perasaanmu. Kecewa dalam hal cinta adalah biasa. Karena pada dasarnya manusia tempatnya melalukan kesalahan.
Walau kenyataannya sangat sulit membenci seseorang jika kita tetap peduli.

Bebaskan saja dulu, mungkin kamu tanpanya tak bisa apa-apa, tapi biarlah. Hatimu perlu hal-hal yang menyenangkan bukan selalu yang menyedihkan.

Tenang saja, seseorang yang terbaik terkadang datang terlambat. Ia hanya ingin, kamu sudah membersihkan segala ingatan tentangnya agar bisa sepenuhnya menerima.

Jumat, 30 September 2016

Tanpa judul

Aku tidak pernah mencintaimu dengan sederhana.
Kucintai kamu dengan segalanya.

Kusimpan kamu dalam setiap hal.

Aku teringat kamu ditengah kemacetan Jakarta.
Aku teringat kamu dalam lagu-lagu di playlist hp ku.
Aku teringat kamu di jalanan yang ku lewati tiap pulang sekolah.

Kamu lah yang membahagiakan dan aku kecanduan.

Yang selalu kucari setiap hari,
terus aku ingat dari pagi hingga dini hari.
Tanpa mengeluh minta cuti atau hari libur.

Kagumku padamu berserak dimana mana.

Di semua hal, tanpa bisa kutata.
Kubiarkan terus berkembang, terus membesar sejadi-jadinya.

Kamu memang berhak dicintai secara berlebihan.

Dan setelah semua yang aku alami,

Mengingatmu dari ujung kepala hingga ujung kaki,
Menemanimu sesering mungkin dan menuliskan banyak puisi,
Menceritakan padamu banyak hal, dan selalu bersedia mendengar keluhmu setiap hari,

Mengapa kamu tetap memilih untuk pergi?

Jumat, 16 September 2016

[Saya, Kamu, dan Cinta Kita yang Salah]


Ini bukan sekedar perbedaan umur di antara saya dan kamu.

Bukan juga seberapa kilometer jauhnya jarak antara saya dan kamu saat ini.

Namun inilah perbedaan yang sesungguhnya. Perbedaan yang selama ini saya abaikan agar saya terus dapat mencintai kamu tanpa beban. Saya seharusnya sadar, saya dan kamu bukanlah sejoli yang akan memiliki akhir yang baik.

Detik, menit, jam, dan hari akan terus berjalan. Saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu kamu begitu saja. Kamu seharusnya bisa menyimpan waktu kamu dengan baik untuk mencintai perempuan lain dengan satu kepercayaanmu.

Iya, saya percaya, Tuhan yang kau percaya, dan Tuhan yang saya percaya sama-sama mengajarkan kebaikan yang sama. Tidak pernah ada ajaran untuk saling menyakiti. Namun cinta kita ini salah, angan-angan yang saya miliki untuk bersama kamu juga salah.

Saya ingin menghabiskan waktu bersama kamu setiap harinya, di setiap pagi dan malam hingga rambut kita memutih. Tapi semua ini salah.

Saya tidak ingin kamu melakukan hal yang dilarang oleh Tuhanmu. Saya yakin, Tuhanmu pasti telah menyiapkan perempuan terbaik dibandingkan saya.

Bersabarlah, Sayang. Waktu mungkin akan mempertemukan kita lagi, entah sebagai apa, yang pasti saya dan kamu ditakdirkan tidak untuk dipasangkan.

Selasa, 06 September 2016

Batas

Batas memisahkan kamu dan saya dalam satu dunia yang terbagi dua
Waktu adalah hening yang menunggu suara, tapi kamu kelewat jauh dan saya dibisukan cinta yang fana
Miris rasanya, dia hanya ada sebentar, lalu saya bosan
Kamu, adalah bagian dari kebiasaan yang hampir saya tinggalkan,
Namun sebelum saya pergi, kamu sudah angkat kaki duluan
Kini ada jarak yang diam-diam meluas, membuat rindu makin menyengsarakan
Ya, salah saya terlena perkataan
Dia memang mempesona, namun sementara
Salah saya juga tak peduli pada kamu yang tinggal meski tak banyak bicara
Batas memisahkan kamu dan saya dalam satu dunia yang terbagi dua
Waktu adalah hening yang menunggu suara
Dan rindu, adalah sekejam-kejamnya jarak menghukum saya

Kamis, 01 September 2016

Manusia hanya ingin lupa

Pikiran yang masih tak mau di istirahatkan akan lelah.
Lelah karena terus mengingatnya.
Lelah dengan semua sikapnya yang kamu tangisi.
Lelah dengan apa yang kamu dapati saat dia tak peduli lagi.

Sudahlah, kamu tak usah menjadi orang terpatah untuk sebuah kehilangan.
Hati tak akan baik kau paksa untuk hal yang menyakiti.

​Kadang Manusia hanya ingin lupa.
Lupa dengan hal-hal yang mereka takutkan, lupa dengan sesuatu yang mereka rasakan di masa lalu ataupun saat ini.

Lupa dengan segala macam masalah hidup yang silih berganti, lupa akan semua hal buruk yang pernah terjadi.

Juga lupa dengan seseorang yang pernah begitu berarti mengisi hidupnya yang kemudian pergi tak berjarak hingga meninggalkan ingatan yang menghantui.

Sebab manusia hanya ingin lupa,
Lupa dengan segala caranya yang tak sesuai janji.
Lupakan saja, dia tak begitu berarti jika hanya kau kenang, kau tak akan menikmati hidup yang kau bayangkan dengan tenang dan nyaman.

Lepaskan, jika semua berat perlahan kau harus merubahnya setidaknya untuk tidak mengingatnya lagi saat ini.

Sebab manusia hanya ingin lupa, dan hanya mengingat dua hal dalam hidupnya. Siapa yang membuatnya terluka sangat dalam dan  siapa yang telah memberi kebahagiaan bukan saja dengan cinta tapi dengan bukti dan janji yang selalu ditepati.

Manusia hanya ingin lupa.

Jumat, 22 Juli 2016

[Saya Tidak Suka Melihat Kamu dengan Dia]


Berada di kota yang kecil, namun dunia yang besar. Mengapa masih saja kita yang menjadi bahan pembicaraan mereka? Mereka tidak tahu bagaimana dampak dari yang kamu perbuat terhadap saya. Mereka terus mengatakan bahwa masalah kita adalah masalah kecil yang mudah diselesaikan. Namun mengapa saya masih terjebak di sini?

Pada suatu hari mereka mengatakan kepada saya bahwa kamu telah memiliki seseorang yang baru. Iya, saya senang, saya berharap kamu bahagia. Tapi saya tidak ingin bertemu dengannya.

Saya tidak ingin melihat kamu bersama-sama dengan dia. Saya tidak suka kamu berpaling secepat ini, jangan berpikir bahwa saya akan menerimanya, saya tidak terima. Karena hanya saya yang memiliki pundak itu, pelukan itu hanya milik saya, hanya saya yang memiliki kamu.

Saya terlihat seperti anak kecil yang tidak suka apa yang dimilikinya direbut. Namun ternyata tidak hanya anak kecil, orang dewasa pun pasti marah ketika apa yang dimilikinya direbut, terutama yang mereka cinta.

Saya tidak suka melihat pencuri itu. Dengan seenaknya merebut tempat saya. Saya tahu selama ini kamu dan dia sudah saling mengenal, dan merencanakan rencana jahat untuk menyakiti saya.

Cara bicaramu di akhir pertemuan kita menggambarkan semuanya tanpa perlu kamu jelaskan. Saya sudah tahu dia—sudah tergambar jelas di binar-binar matamu. Saya juga tidak suka cara kamu berpaling, jika cinta kamu kepada saya mengapa tidak jujur saja?

Jangan seperti ini; seketika menghilang lalu tidak lama setelahnya sudah memiliki perempuan yang baru. Kamu dan cintamu yang baru harus ingat, jangan tampakkan kedua wajah kalian secara bersamaan, saya hanya ingin bertemu kamu saja.

Sekali lagi, hanya untuk mengatakan bahwa saya tidak suka melihat dia. Terlebih lagi saat bersama-sama dengan kamu.

Kamis, 23 Juni 2016

Entah

Aku tidak tahu bagaimana cara Tuhan mengenalkan kita
Tapi kamu harus tahu,
Aku adalah si pendosa yang kini berdoa untukmu,
Aku adalah manusia berhati dingin yang mudah meleleh hanya dengan senyumanmu,
Aku adalah si pemberani yang takut kehilanganmu.

Aku tidak tahu,
entah jarak yang memisahkan kita,
atau justru keadaan?
entah mata kita yang tak lagi saling menatap,
atau hati kita yang tak lagi saling menetap?
entah kita yang tak sejati,
atau memang kita yang tak pernah sehati?

Rabu, 11 Mei 2016

Janjimu

Seandainya mengulang waktu
bisa semudah seperti janjimu,
Setelah berucap kau sudah lupa akan hal itu.
Setelah ku beri harapan padamu
dengan gampang kau patahkan begitu lugu.

Saat dimana aku memilihmu,
nyatanya mataku seperti keliru
menempatkan hati dengan cara terburu-buru
hingga akhirnya kecewa menjatuhkanku.

Perasaan memang sulit sekali diterka
hari ini kau bahagia,
esok ataupun lusa bisa saja kau terluka.
Hati selalu mudah memaafkan
Namun, sekeras apapun kamu berusaha
Ingatan padanya kian susah kau lupa.

Sesuatu yang aku sadari tetaplah hadir
ketika memang tak ada lagi tentangku di dalam hati yang sudah tersingkir.
Kini,
Kau sudah sangat menikmati hidupmu,
Sedangkan aku harus membersihkan seluruh luka yang pernah kau ukir.

Meski semuanya telah berakhir dan kau memilih pergi,
Aku tetap menghargai hal-hal yang pernah kau berikan.
Teruntuk perasaan yang seutuhnya ingin memilikimu lagi, walaupun sulit untuk bisa menghadirkanmu kembali.

Kamis, 14 April 2016

...

Untuk beberapa post dihapus
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Percayalah cinta itu rumit.
Mencintai orang itu rumit.
Dan beberapa post yang rumit itupun harus dibinasakan...

Cemberut

Engkau yang sedang tertidur di sana. Entah dengan sebuah senyuman, pertanda hari itu berakhir dengan sesuatu yang menyenangkan. Entah dengan sebuah cemberut masam, pertanda hari itu berakhir dengan sesuatu yang menyebalkan. Entah dengan sebuah tangisan, pertanda hari itu berakhir dengan sesuatu yang menyedihkan. Engkau yang tidak pernah kurasakan kehadirannya dalam dinginnya malam ini.

Namun seketika, engkau hadir di dalam mimpiku.

Engkau yang sedang tertidur di sana. Ragamu yang sedang berbaring dengan nyaman, beralaskan kasur yang empuk dan juga yang diselimuti dengan kehangatan. Matamu yang terkatup rapat, penuh dengan harapan bahwa esok ia akan terbuka kembali untuk melihat dunia. Jiwamu yang sedang berkelana entah ke mana, hingga sampailah ke dalam dunia jiwaku. Ya, untuk sekali lagi, jiwamu hadir di dalam mimpiku.

Dan seketika, engkau mengajakku untuk bertamasya.

Engkau yang sedang tertidur di sana. Jiwamu yang membawaku pergi bertamasya, ke dalam dunia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Seperti kata orang, jika engkau telah jatuh cinta dengan seseorang, dunia akan terasa hanya milik berdua. Hanya di dunia itulah dunia terasa hanya milik kita berdua. Seolah-olah bintang yang bersinar dan bulan yang bercahaya tiada ada artinya dibanding kehangatanmu di sisiku.

Namun seketika, engkau menghilang dari mimpiku.

Engkau yang sedang tertidur di sana. Jiwamu kini telah meninggalkan alam mimpi, kembali menuju realita kehidupan. Meninggalkan secercah kehangatan untuk kukenang, tidak untuk dinikmati namun sebagai prasasti sejarah yang telah usang dan masih berharga. Dan kini akupun telah pergi meninggalkan alam mimpi, menuju realita kehidupan. Membawa secuil ingatan akan kisah tentang seseorang yang telah merasakan "dunia milik berdua".

Ya, namun semua itu hanyalah sebuah mimpi.

Senin, 28 Maret 2016

[Aku, Kamu, dan Dia Yang Pernah Hadir di Hidupmu]



Bisakah sejenak kita melupakan dia? Dia yang pernah hadir di hidupmu?

Pikiran ini lelah untuk terus membanding-bandingkan seberapa baik diriku untukmu, atau seberapa baik dia untukmu, dulu?

Bahkan kamu masih ingat tempat terindah kalian berdua. Aku hanya bisa tersenyum.

Aku disampingmu, setia mendengarkan ceritamu tentang dia. Kurang baik apa aku, memendam api di dalam dada saat kau bercerita tentang dia.
Kurang kuat apa aku, menahan air mata ini agar tidak jatuh setetes pun dihadapanmu saat kau bercerita tentang dia.
Kurang hebat apa aku menahan gemuruh amarah yang berkecamuk ingin keluar dari dalam hati saat kau bercerita tentang dia.

Apa semua yang ku lakukan selalu kurang untukmu? Lalu apa kelebihan ku dimata mu?

Kelebihan ku adalah, bisa mengisi kekosongan hatimu disaat 'dia yang pernah ada dihatimu' pergi.

Sabtu, 12 Maret 2016

Apalah

Harapan yang hembus lewat doa belum menjadi nyata,
Rindu yang menyamar lewat tangis juga tak lagi ia dengar.

Segala hal yang menyangkut dirimu hadir beriringan dengan hujan,
menguatkan kembali ingatan yang sudah lama coba ku hilangkan.

Disitu semua tumpah,
Berbagai perasaan hinggap di bias luka.
Mendung semakin mendung,
Gelap pekat menumpahkan lirih.
Kecewa tertawa,
Sedih bertanya kenapa?

Mungkin hati belum sepenuhnya menerima
sebab, yang kau temui hanya kegagalan.
Betapa sulitnya bertahan dengan kepercayaan,
Sedang dirinya enggan mengerti dan terus menggantung tanya.

Sudah, sudah seharusnya kau lari.
Perlahan dengan kepastian.
Tinggalkan kecewa-kecewa yang terlanjur,
lupakan kesedihan-kesedihan yang melekat.

Ia pun sudah jauh berpulang dari hatimu.
Tanpa pesan atau titipan rindu.
Ia pun berlalu semakin tak kau jangkau.
Hanya membiarkanmu tertatih di siksa keadaan.

Jangan seperti itu, hiduplah seperti warna jingga di langit,
walaupun harus melalui gelap pekat,
indahnya akan terlihat begitu sempurna setelahnya.

Kamu itu cantik, sayang kalau harus ada airmata yang terus turun hanya karena kebodohan setelah ditinggal pergi dengan percuma.

Sabtu, 20 Februari 2016

[Inginku]



Inginku bersekongkol dengan waktu
Perlambat detik yang berdetak hingga tak mau maju
Agar kamu tak pergi dan terus di sampingku

Inginku bersekutu dengan rintik hujan
Walau badai makin deras tapi tetap kubiarkan
Agar kamu dan aku merapat di bawah payung kebasahan

Inginku berterima kasih pada macetnya Jakarta
Saat mobil kita terhenti kamu pun bersuara
Mendengar nyanyianmu membuat telingaku berbahagia

Inginku menyampaikan segalanya padamu
Maka di sinilah aku berpuisi dengan macet, hujan, dan waktu
Karena aku tidak sanggup menatap kedua matamu

Senin, 15 Februari 2016

[Saya Ingin Berjodoh Denganmu]



"Jika kamu tahu, ada seorang wanita yang selama ini ada di sekitarmu itu  suka padamu, apa yang akan kamu lakukan?"

"Saya akan terus bersikap baik padanya. Bukan berarti saya juga menyukainya, namun ketika saya jatuh cinta itu pasti berawal dari kekaguman saya kepada dia. Dan jika wanita itu bisa membuat saya kagum, mengapa tidak?"

Saya kemudian tersenyum, memberikan senyuman terbaik yang saya miliki—berharap kamu akan kagum.

Iya, agar kamu kagum, kemudian jatuh cinta kepada saya.

Bertahun-tahun saya mendengar cerita tentang kamu mengagumi dia. Melakukan hal-hal bodoh untuk mendapatkan perhatiannya, padahal selama ini saya yang di sini tertawa atas lelucon yang kamu buat.

Kamu menyukai suaranya yang merdu, suaranya secantik wajahnya. Kamu sering berkata bahwa kamu tak bisa terus-terusan memetik gitar tanpa ada yang bernyanyi, katamu kamu menginginkan dia untuk melengkapinya. Namun suara petikan gitar yang kamu buat, selalu melengkapi saya walau tak ada yang bernyanyi.

Bermimpi saat hati sedang terluka adalah hal yang salah. Mimpi-mimpi saya untuk bersama kamu menjadi semakin dan menjadi.

Semua orang tahu kamu dan saya akan menjadi yang sangat serasi jika bersatu. Apakah kamu tidak pernah mendengar, saya selalu mengucap kata 'aamiin' jika orang-orang mengatakan saya dan kamu akan berjodoh?

Kata mereka sebuah persahabatan sangat mudah berjodoh.

Namun, jika kamu terus saja menceritakan tentang dia kepada saya,
jika kamu terus saja mengagumi matanya yang cantik,
dan jika kamu terus saja tidak merasakan bahwa ada seorang wanita yang jatuh cinta dengan kamu saat ini.

Bagaimana persahabatan yang kita jalin bisa berubah menjadi jodoh?

Kamu harus tahu bahwa saya ingin berjodoh denganmu.


Kamis, 14 Januari 2016

Ironi

Apa cuma aku yang menyimpan baik-baik kenangan kita, tapi kamu tidak?
Apa cuma aku yang berharap kamu menyimpan kenangan itu juga?

Apa karna aku tidak ada artinya di hidup kamu, itu sebab kamu tidak menyimpan kenangan apapun terkait tentang aku?

Betapa sakitnya.

Bahkan kamu tidak sedih sedikit pun disaat kenangan tentang 'kita' hilang walaupun hanya separuh.

Apa ini pertanda?
Pertanda bahwa memang kamu tidak pernah menempatkan aku ditempat spesial dihatimu?

Ironis.

Memang hanya aku yang berharap.
Memang hanya aku yang ingin berada ditempat itu.
Maaf. Aku hanya seorang pengharap yang mencintaimu.
Dan aku berharap, kamu mencintai seorang pengharap sepertiku.