Kamis, 15 Desember 2016

Memoar yang Terkapar Di Sudut Memori



[Januari]
Kau kembali. "Apakah kau 'kan pergi lagi?" tanyaku, lirih. Gelenganmu memeluk risau di lubuk hati. Kau tersenyum, ragaku menggigil dalam sepi.

[Februari]
Kau acuh, aku terjatuh. Aku terjebak dalam asaku yang jauh. Tak sangka aku, kau tikam habis rasaku yang luruh.

[April]
Kucoba berlari, meski tertatih. Kutilap senyumku dalam perih. Cinta bertahan, di bilik angan yang mulai letih.

[September]
Kau lempar senyum itu lagi. Aku tak mengerti, bagaimana senyum itu serupa sinar mentari pagi. Kau menghampiri, tawarkan harap di sela-sela anergi.

[Oktober]
Kusadar hadirmu begitu bermakna. Usahaku untuk melupakanmu seketika sirna.

[November]
Hujan turun tak kenal waktu. Ceracau menumpuk ungkapkan rindu. Petrikor terhirup bawa aromamu. Bayangmu hadir serupa candu.

[Desember]
Kau melewatiku. Di sebelahmu, kau gandeng dia yang picing matanya menghujamku. Alunan elegi iringi kepergianmu, dan aku tersenyum kaku. Bentengku rapuh, asaku runtuh. Cintaku utuh, aku terpaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar