Detik hari menuju tahun berganti, aku kembali menyusur setapak jalan kecil. Jalan yang dulunya ku habiskan berdua olehmu dan tangan jahil kita yang saling mencolek pipi.
Mengingat itu betapa mesranya kita dulu, betapa bahagianya rasa memiliki seseorang sepertimu. Tak ada yang mampu mengalahkan senja ketika kita berpadangan di hadapan langit yang menyorot keindahannya berjuta warna.
Saat rambutmu beracak acakan diterpa angin, saat mata kita tak lepas menatap hingga ke sanubari hati.
Ketika itu aku tanggalkan namamu seluas luasnya perasaan ini. Sedalam dalamnya diri ini yang terus kau racuni lewat caramu yang meluluhkan hati.
Desember terlalu banyak memberiku cerita; juga kenangan yang tak pernah ku biarkan begitu saja.
Memang, daun yang gugur pada masanya terlihat indah, namun jika seseorang yang telah ku tempatkan dengan amat berarti haruskah ia pergi?
Lantas kau bisa lupa dengan segala hal yang kita lalui bersama semudah ini?
Tolong, jangan pernah kau buat aku harus merindu sejadi jadinya.
Aku hanya tak sanggup melawan luka saat ingatan tentang mu menguat dikepala.
Tempat yang biasa kita sambangi telah berganti sosok, jalan yang pernah kita lalui sudah semakin sepi. Ia hanya meninggalkan beribu cerita yang mengantarkan ku pada luka.
Aku ingat ucapan mu selepas kau menghangatkan bibirku, kau bilang
"Jika tangkai yang patah, kamu masih memiliki daun yang utuh untuk kau jaga."
Lalu ku tanya, apa maksud semua itu lalu kau jawab:
"Jika ada seseorang yang membuatmu kecewa nanti, kamu masih memiliki hati untuk kau berikan kepada yang menunggu mu dengan segala pengorbanannya yang begitu besar."
Mataku berkaca kaca—kau bilang beribu maaf yang sempat membuat airmata ku tak terbendung.
Hingga saat itu aku tak ingin melepas pelukanmu.
Jujur, begitu sesaknya saat kamu berusaha menguatkan ku untuk tak lagi memperhatikanmu—untuk tak lagi ada disetiap harimu yang selalu ku sambut dengan sangat bahagianya.
Kau melepasku saat besar harapanku untukmu, saat dalamnya perasaanku. Kau tenggelamkan aku seketika itu juga. Membuat ku masuk ke jurang lebih dalam dipenuhi luka.
Perhatianmu yang selalu membekas, senyuman yang kau gariskan begitu manis serta hal sederhana yang mampu membuatku tertawa kini terhempas.
Terseok bersama namamu yang tak bisa lagi ku miliki.
Desember tepat memberiku seseorang yang begitu berarti. Seseorang yang pernah ada dan membuatku susah melupakannya.
Ia masih tetap ada untuk sebagian rasa yang pernah tumbuh. Ia masih ada sebagai penghantar rindu sesekali tiap malam ku.
Desember yang kini, aku tak lagi menemukan itu semua. Hanya angan ku saja yang terus berputar merekam kisah kita lalu sekejap menghilang. Lalu seseorang menepuk punggungku dan mengajakku meninggalkan tempat itu.
Tempat yang dulu kau berikan sebagian hatimu untukku. Namun, kenyataan berkata kita tak lagi bersama.
Dan kini, biarlah semuanya tetap hidup meski berbeda. Kau dengan seseorang yang baru, dan aku dengan seseorang yang telah kutemui.
Kita hanya kisah yang pernah tercipta lewat tatap mata, dan berakhir dengan hati yang tak lagi sama.
Terima kasih untuk desember kala itu.
( Randit Firmansyah )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar