Sabtu, 17 Desember 2016

Kenapa datang lagi

Halo, apa kabar?
Untuk apa kamu datang lagi?
Membeberkan semua kenangan atau menertawaiku yang ketahuan menyimpan rindu?

Ah, kamu terlalu abu-abu.
Membingungkan, sehingga aku membuat hipotesa baru.
Sampai kapan kamu di sini?
Mau menorehkan luka lagi ya? Di hati yang sebelah mana? Aku beritahu saja, tak ada ruang kosong di hati ini lagi untuk kamu torehkan luka.

Lebih baik kamu pulang, sebelum senja membutakan pandangan.
Apa kamu bilang?
Kau ingin mengajakku berpulang denganmu?
Lucu sekali leluconmu, lalu di mana kekasihmu yang itu?

Mau tau sesuatu tidak?
Kau taukan hati itu ibarat kayu usang? Kau sentuh saja sedikit ia rapuh dan tak akan kembali ke awal mula,
Nah seperti itulah aku, memang kau tak begitu lama meninggalkanku, tapi, waktu tetaplah waktu.
Kamu titipkan aku bersama waktu, memang aku tak sendiri tetapi itu yang membuatku terasa mati, dia mengajak kawannya, memperkenalkanku kepada rindu!

Cukup sampai sini saja, aku tak ingin malam mengusikku dengan memberitahu bahwa rindu sudah ada di ambang pintu, lagi.

Tolong, jangan mengacaukan hati, lagi.
Biarkan saja dia merelakan, toh sebentar lagi penawarnya akan datang, tetapi, maaf, itu bukan kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar