Aku berterima kasih padamu—karena berkatmu aku paham seperti apa dicintai.
Aku juga tak bisa menutup kemungkinan, bahwa memang kau begitu memberiku banyak cerita, canda dan tawa.
Kita rangkum semua itu menjadi kisah yang terus ku bawa entah sampai kapan.
Pernah sesekali aku berucap, jika kamu buat ku bahagia terus menerus apa kamu yakin akan seterusnya seperti ini? kamu memilih bungkam.
Ketika aku berandai terlalu tinggi, dinding kepercayaan yang ku bangun untukmu tiba tiba terjatuh dengan puing kekecewaan.
Ya, semua yang kamu berikan—yang selalu membuatku merasa istimewa dan berharga, harus kamu hempaskan dengan sangat jauh.
Akupun tak paham bagaimana kamu bisa merubah harapanku yang sedemikan rupa menjadi hal yang sangat ku takuti; ketika aku akhirnya kehilangan kamu.
Mungkin, hatimu belum bisa melihat semua hal yang tulus. Kamu hanya tahu bagaimana membuatku senang, nyaman lalu kamu bisa seenaknya pergi dan melewatkan ku begitu saja.
Ketika malam, aku sering menatap langit lalu mengajukan pertanyaan padanya. Apa harus dengan bintang dan bulan agar aku bisa terus melihatmu terang? padahal kau diatas sana terlihat gelap.
Saat perasaan ku benar benar tak ada yang menerangkan, aku merasa gelap layaknya langit tanpa ada bulan dan bintang.
Seseorang yang sempat membuat hidupku kembali mempunyai harapan sudah memilih untuk tetap pergi.
Aku hanya ingin lupa dengan hal yang membuatku harus bersusah payah menahan airmata yang mudah menetes.
Ketika aku menjaga benda pemberianmu, aku ingat kamu,
ketika aku sering menunggu pesan mu yang datang ternyata itu bukan darimu,
saat aku ingin menghubungi mu lebih dulu ego ku menahan dengan sangat tinggi, pun ketika aku mengunjungi tempat yang biasa kita habiskan berbincang,
kenangan mengulang semuanya dalam ingatan.
Lelah terus mencari sesuatu yang tak mungkin kembali, kadang membuatku ingin menyendiri lebih lama.
Padahal, seseorang di belakangku sedang berusaha memberikan payung ketika perasaanku dihujani luka tanpa henti.
Aku masih sangat terngiang hingga mengabaikan seseorang yang perhatiannya begitu besar melebihi dirinya.
Maafkan aku, aku hanya lemah pada diri sendiri. Karenanya aku terus dibuat ingat.
Bertahan dengan keadaan yang tak kita inginkan kadang menuntut kita untuk membenci diri sendiri.
Sudahlah, dia sudah beranjak dengan kebebasannya.
Sudahlah, sekarang perhatian yang dulu kamu berikan begitu banyak hanya pemanis diawal.
Aku terlalu mengharapkanmu terlalu jauh hingga aku tak sadar kenangan yang membekas padaku kamu buang agar tak adalagi hal yang tersisa dari diriku.
Sekarang, aku hanya perlu mengikhlaskan semuanya bahwa, sesuatu yang hilang hanya sekedar pengingat dari apa yang pernah kita rasakan.
Dulu, sekarang, dan entah sampai kapan luka itu masih bersamayam dalam dada; juga hati yang kamu buat kecewa ini akan terus ingat pada siapa yang telah membuatnya retak dan patah.
Aku hanya perlu mencintai diriku sendiri. Kemudian aku akan paham, seseorang seperti apa yang harusnya aku pilih agar nanti rasa sakit ini tak harus kembali hadir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar