Jumat, 11 November 2016
[Sekeras Aku Berjuang Kamu Tidak Pernah Tahu Dan Tidak Akan Mau Tahu]
Sesekali ingin aku rasanya kembali ke masa itu. Masa dimana aku masih sangat malu-malu akan kehadiranmu.
Setiap hari aku selalu menjadi orang paling bahagia hanya dengan membalas pesanmu.
Berbagai cara ku lakukan agar percakapan kita terus berlanjut sampai malam mengawali pagi.
Ketika itu, mungkin kau menganggapku aneh—dengan perasaanku, yang tak ku sangka aku menaruh hati padamu.
Aku berusaha menutupi rasa gugupku ketika membalas suaramu di telepon, menatap sepasang dua bola matamu saat pertemuan kita.
Aku sadar, kau menyikapi itu masih dengan hal biasa bukan seperti yang ku duga.
Aku paham, kau merasa sedikit bingung melihat tingkahku yang gelagapan di dekatmu.
Semua berubah tanpa pernah ku kira.
Lambat laun, aku mengerti kehadiran ku untukmu seakan percuma.
Padahal hati ini telah berhasil menempatkan namamu teramat dalam.
Semua perhatian ku kau abaikan begitu saja.
Balasan pesan yang kau tunjukkan dengan singkat—melemahkan harapanku yang kuat.
Nyatanya aku begitu membosankan bagimu, nyatanya kau tak pernah mengerti saat diriku sedang ingin memulai cerita baru denganmu.
Sayangnya, perasaan tak bisa sepenuhnya ku kendalikan.
Bertahan dengan ketidakpastian,
menyadarkan aku pada kenyataan.
Kenyataan bahwa memang kau tak pernah mau tahu dan memilih berlalu.
Kadang kita terlalu mudah menaruh harapan besar terhadap seseorang yang tak bisa dimiliki.
Hingga ketika dijatuhkan, luka mengganjar kita lewat rasa kecewa.
Andai meyakinkan mu tak seberat ini,
mungkin kita tetap bersama untuk sebuah kisah yang tercipta.
Tak ada yang perlu kau cari,
Sesegera mungkin aku menarik diriku dari perasaan yang ku punya.
Membencimu mungkin sulit bagiku
Karena kenangan tentangmu masih tetap ingin hidup dalam ingatanku.
Jika hatimu memang sekeras batu,
Apalah hati ku yang selalu bisa menerimamu.
Maafkan, aku tak seperti yang kamu mau. Sempurna ku adalah ketika kau bisa menerima perasaan ini.
Maafkan jika memang dengan ku, kau merasa tak pantas.
Aku akan berjalan mundur—mejauhkan perasaan ini untukmu agar luka tak semakin membekas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar