Jumat, 25 November 2016

Malam memuncak dan curang

Saat malam semakin memuncak aku kembali merenung apa saja yang pernah ku lalui, bahkan segala hal tentangmu pun ikut masuk memenuhi seisi kepalaku.

Ketika aku berusaha menjauhkan pikiran tentangmu, aku selalu gagal akan hal itu.
Ternyata namamu masih diberi ruang yang cukup besar di hati ini sehingga sesulit apapun aku berusaha lupa ia tetap tinggal dan menetap mengisi paruparu ku.

Ini sama saja aku terus tertahan pada perasaan yang secara tak sadar perlahan membunuh pikiranku—tanpa kau sentuh tubuhku ini.
Lagi-lagi aku dibuat susah payah melepaskan dirimu.
Perasaan yang kau buat patah, seluruhnya memang patah.
Kau buat hati ini sering mencari kepingannya yang hilang bersama sosokmu.

Aku perlu waktu untuk membenahi semua itu.Tapi, sebab ada hal lain yang tak bisa ku hapus—saat kenangan kita berputar begitu saja diatas kepalaku.

Saat kita makan berdua, tak sengaja makananmu menempel didagu lalu kubersihkan, saat hujan menjatuhkan rintiknya dengan deras—ketika itu kita berlarian mencari tempat berteduh.

Kau tersenyum kala itu, kau memberi ku jaket untuk menjadi pelindung satu satunya agar tubuh kita tak basah.
juga pada saat hari dimana aku bertambah usia—kejutan kue dan kado serta kasih sayang yang kau tunjukkan begitu besar kala itu.
Ketika aku merasa saat itu kau menjadi orang yang paling membuatku merasa berharga.

Hal semacam itulah yang membuatku meneteskan dengan sendirinya. Ketika aku benar benar tak bisa lagi mengulang semuanya.
Bahkan untuk saat ini saja kita tak berkomunikasi apapun tentang kabar.
Aku hanya bisa melihat setiap update mu di sosia media.
Aku hanya melihat aktivitasmu dari situ. Ingin sesekali aku berkomentar namun aku takut kecewa menimpa ku untuk kedua kali.
Dan kembali membuat sebagian dadaku sesak saat aku tahu kau memasang foto berdua sangat dekat, seperti dulu kau melakukannya denganku.

Cukup. Harusnya aku sadar, tak pantas rasanya membiarkan perasaan ini tetap ada dan tumbuh.
Harusnya aku sadar, bahwa hati ini sudah ia lupakan jauh jauh.
Harusnya aku sadar, tak adalagi semua kejutan istimewamu; saat aku sedang membutuhkan sebuah perhatian lebih.

Harusnya aku sadar, aku tak berhak ada disetiap aktivitasmu—saat semua yang kulakukan untuk melihatmu secara tersembunyi.
Harusnya aku sadar, ketika aku bukan lagi yang ia mau. Aku harus menerima pahitnya sebuah rasa cemburu yang berusaha ku tutupi.

Harusnya aku sadar, kenyataan berkata aku hanya sebuah kisah masalalunya yang ia singkirkan.
Harusnya aku sadar, aku harus merelakan semua yang pernah membekas, melepaskan yang begitu berat agar hati ini bisa kembali pulih dari segala luka yang kau biarkan.

Harusnya aku sadar, bahwa bukan lagi namaku yang selalu kau sebut dalam rindu, yang selalu kau jaga perasaannya agar tak pergi.

Harusnya aku sadar, saat aku tak mungkin bisa membuatmu bertahan padaku dan kenyataannya memang hati yang kau jatuhkan diawal, sekarang kau hempaskan begitu jauh bersama duka yang kubawa.

Harusnya aku sadar, dia sudah bukan milikku lagi saat ini.

Untuk yang pernah bahagia namun akhirnya diganjar luka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar