Selasa, 29 November 2016

Claudya #1

Claudya #1

Dalam cerita yang terbalut dengan rindu, perasaan menggebu, dan hati yang tak tergambarkan dimulai lah kisah tentang seorang perempuan yang selalu menangis ditemani rindu, ia mengutuk selalu tentang cinta yang dikatakan sebagian orang merupakan suatu yang hakiki, takdir setiap penghuni pertiwi katanya, namun baginya hanyalah sebagian omong kosong dari dunia yang ia tinggali sekarang. Ia tak percaya cinta pada setiap hal yang ada namun ia menangis selalu, kecewa karena cinta. Ia telah melalui banyak kehilangan. Dahulu, ia percaya akan adanya cinta, hati yang berdegup kencang dikala sang pujaan datang, tak dapat terlelap dikala malam menyelimuti dan berbagai hal yang disebabkan oleh apa yang biasa orang-orang katakan.

Ia pernah mencinta begitu dalam, sebegitu dalamnya hingga ia rela melacurkan dirinya dengan waktu, berbagi keluh kesah dengan malam, bercerita siang malam menunggu kantuk mengantar lelap. Pernah suatu malam ia berangan-angan kepada langit-langit kamarnya, seindah apakah cintanya dimasa depan kelak, ia berandai-andai tentang kebahagiaannya bersama sang pujangga pada saat itu, sampai-sampai ia lupa bahwa masa depan bukanlah suatu hal yang pasti. Ia kalap waktu itu, teralun-alun dalam lamunan tentang kebahagiaan yang menurutnya pada saat itu akan segera terwujud. Sampai pada akhirnya sang pujangga yang pernah mengatakan cinta kepadanya berani bermain api bersama seorang perempuan dari kaum antah berantah. Ia terluka seketika, tak percaya apa yang terjadi kala itu, bagaikan ditusuk menggunakan belati berkarat tepat di jantung, sesak terasa sampai tak terasa bulir-bulir air mata mulai turun seketika melengkapi kisah sendu nan pilu milik perempuan yang tersakiti karena rasa kepercayaannya kepada cinta yang dianggapnya suci.

Ia mengutuk tentang semua omong kosong yang dikatakan cinta, meringkuk sesal dirinya pernah mencinta. Tangis adalah temannya sekarang, rindu sebagai tamu tak diundang, dan perasaan yang menggebu antara penyesalan karena telah mencinta dengan rasa benci yang tak terelakkan.

Lagi-lagi, kehilangan merupakan sebab sebagian orang untuk membenci dirinya sendiri, membuat penyesalan tanpa henti yang tak akan ada ujungnya, meratapi sesal karena telah terjebak diantara ruang-waktu yang menurutnya begitu indah namun hanya sesaat sampai pada akhirnya ruang-waktu itu harus ditelan oleh realitas yang begitu pahit nan kejam.

Sekarang hatinya terkunci rapat, membuang jauh-jauh kunci kedalam ruang gelap tak berujung, ia mengubur segalanya yang mengatasnamakan tentang cinta. Mengubur jauh perasaanya kedalam lubang tak berdasar dan menutupnya dengan rasa kecewa yang tak terelakkan.

"Dalam hati saya pernah mencinta, begitu riang saya menyambutnya, berandai-andai tentang bahagia sampai lupa dengan realitas yang siap menghantam keras kapanpun ia mau. Mencintalah jika kau siap hancur, merindulah jika kau siap mati," kata Claudya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar