Engkau yang sedang tertidur di sana. Entah dengan sebuah senyuman, pertanda hari itu berakhir dengan sesuatu yang menyenangkan. Entah dengan sebuah cemberut masam, pertanda hari itu berakhir dengan sesuatu yang menyebalkan. Entah dengan sebuah tangisan, pertanda hari itu berakhir dengan sesuatu yang menyedihkan. Engkau yang tidak pernah kurasakan kehadirannya dalam dinginnya malam ini.
Namun seketika, engkau hadir di dalam mimpiku.
Engkau yang sedang tertidur di sana. Ragamu yang sedang berbaring dengan nyaman, beralaskan kasur yang empuk dan juga yang diselimuti dengan kehangatan. Matamu yang terkatup rapat, penuh dengan harapan bahwa esok ia akan terbuka kembali untuk melihat dunia. Jiwamu yang sedang berkelana entah ke mana, hingga sampailah ke dalam dunia jiwaku. Ya, untuk sekali lagi, jiwamu hadir di dalam mimpiku.
Dan seketika, engkau mengajakku untuk bertamasya.
Engkau yang sedang tertidur di sana. Jiwamu yang membawaku pergi bertamasya, ke dalam dunia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Seperti kata orang, jika engkau telah jatuh cinta dengan seseorang, dunia akan terasa hanya milik berdua. Hanya di dunia itulah dunia terasa hanya milik kita berdua. Seolah-olah bintang yang bersinar dan bulan yang bercahaya tiada ada artinya dibanding kehangatanmu di sisiku.
Namun seketika, engkau menghilang dari mimpiku.
Engkau yang sedang tertidur di sana. Jiwamu kini telah meninggalkan alam mimpi, kembali menuju realita kehidupan. Meninggalkan secercah kehangatan untuk kukenang, tidak untuk dinikmati namun sebagai prasasti sejarah yang telah usang dan masih berharga. Dan kini akupun telah pergi meninggalkan alam mimpi, menuju realita kehidupan. Membawa secuil ingatan akan kisah tentang seseorang yang telah merasakan "dunia milik berdua".
Ya, namun semua itu hanyalah sebuah mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar