Lagi-lagi kamu datang, untuk kesekian kalinya, untuk mengadu tentang permasalahan berat yang kamu alami.
Seperti tak ada habisnya ia yang kamu bicarakan, ia yang hilang diambil kenyataan.
Rintihan itu, rintihan rindu yang mendayu-dayu. Rintihan pilu yang membuat ngilu hati jika didengar, Kamu terlalu sakit, terlalu cinta pada ia yang fana.
Kamu belum sadar, ia yang telah pergi tak akan pernah bisa untuk kembali, walau sebentar, itu mustahil.
Kamu terus merintih, berkata rindu pada alamnya, berharap ia dikembalikan. Namun sekali lagi, itu mustahil.
Sayang, lepaskan iya yang pergi, rintihan itu menyayat dirinya disana.
Lihatlah sekitar, terlalu hitam karena kehilangan tawamu, Alam lebih merindukan senandung bahagiamu dibandingkan dengan dirimu yang merindukan keberadaannya.
Wahai kamu, merintih bukanlah jalan satu-satunya untuk merelakan kepergiannya, itu membuat dirinya menderita. Berbahagialah, karena dengan kepergiannya dirimu mendapat suatu kisah paling berharga.
(Randit Firmansyah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar