Rabu, 05 Oktober 2016
[Aku, Kamu dan Dia]
Pertama tak ada yang menduga aku mempunyai perasaan yang sedalam ini. Hanya dengan hal-hal sederhanamu aku begitu tertarik.
Lewat beberapa obrolan kita dalam percakapan, aku selalu menyukai caramu mengajakku berbincang, bercanda dan membuatku tertawa.
Kadang secara tak sadar kamu menghiburku ketika tak ada seseorang yang bisa ku ajak berbagi kesedihan. Kamu berusaha menguatkan aku agar tak semudah itu menyerah.
Lalu, rasa nyaman timbul ketika kedekatan kita sangatlah dekat dan erat—saat kamu memposisikan aku sebagaimana perasaan yang ku punya untukmu.
Kita menjadi dua orang yang tak mau dipisahkan kala itu. Waktu pun ku paksa agar tak berlalu begitu cepat.
Mungkin kamu belum menyadari sepenuhnya perihal sesuatu yang ku pendam; juga yang ku sembunyikan dalam tawa.
Tapi, aku ingin agar kamu mengutarakannya lebih dulu meyakinkan dengan tatapanmu hingga aku benar-benar seutuhnya milikmu.
Lama ku menunggu, kamu malah semakin membuatku serba salah. Dilema menerjangku beberapa kali. Apakah harus lebih dulu aku yang mengatakan daripada harus menunggu membuatku semakin salah tingkah didepanmu.
Akhirnya aku nekat memberanikan diri membuka obrolan selain hal yang sering kita bahas yang nyatanya tak begitu penting.
Aku menguatkan diriku agar tak ada yang salah ketika aku mengatakan itu.
Tapi ternyata, setelah ku tanya dirimu agar lebih meyakinkanku, Kenyataan menampar ku dengan sangat keras.
Tanganku seakan tak kuat lagi untuk melanjutkan ketikan.
Kecewa datang begitu cepat saat aku baru ingin memulai bahagia.
Ternyata ada seseorang yang lebih dulu kamu bahagiakan,
lebih dulu kamu jaga; juga lebih dulu kamu buat nyaman.
Dia yang telah menempatkan namamu terlebih dulu,
Dia, yang bisa sepenuhnya kamu miliki
Dia, yang berhasil meluluhkanmu sebelum aku.
Sekarang, sudah tak pantas lagi rasanya aku hadir untukmu—untuk setiap hal yang kita punya.
Sekarang aku mundur lebih jauh, menjauhkan perasaan ini.
Jagalah dia selagi kamu masih bersamanya. Dia yang lebih pantas bersamamu bukan denganku.
Dia yang harus kau jaga bukan aku.
Dia yang harus lebih kau lihat lagi perasaanya yang mungkin saja lebih dalam dibanding aku.
Kita tetap ada, namun cerita tentangmu saja yang harus berhenti. Bukan karena aku tak ingin, Hanya saja hatiku tak akan baik merebut kebahagiaan seseorang dengan cara egois teruntuk perasaan ku untukmu.
Airmata yang jatuh adalah bukti bahwa hati telah sepenuhnya berharap. Namun, kenyataan tetaplah harus aku terima agar, aku bisa mengikhlaskan semua yang pernah ada. Supaya luka tak terus menghancurkanku lewat airmata.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar