Kadang, ada hal-hal yang belum diselesaikan, namun terlanjur usai.
Seperti ketika aku memilih mematahkan hati untuk kemudian kamu miliki, tetapi kamu justru memilih pergi, menanggalkan semua mimpi.
Entah aku yang terlalu banyak berharap, atau bagimu, menyayangiku begitu berat?
Rasanya aku ingin menyimpanmu untuk diriku sendiri,
tapi aku sadar, aku tidak pernah akan.
Bagaimana bisa, jikalah untuk bertemu denganku saja, kamu suka mengarang lupa?
Tidak, tidak pernah ada kita, sayang. Karena sesungguhnya, semua yang kita lakukan ini hanya hiburanmu belaka. Sebuah pura-pura, yang terlanjur menyenangkan untuk kamu lewatkan begitu saja.
Haruskah semua ini selesai; hal-hal yang bahkan belum pernah kita mulai?
Namun ditinggalkan olehmu adalah sesak,
dan jatuh cinta kepadamu menjelma kesendirian
Pada sebuah cermin, tepat didepannya aku berdiri.
Terpantul aku yang lain.
Aku kedua yang kusebut pula dirinya aku.
Aku mengenalnya, benar sosoknya persis aku , sungguh tiadalah palsu.
Entah sejak kapan, kini ia menceramahiku.
Ada garis batas kurasa telah dilewatinya.
Perlulah turut ia bercermin seperti yang 'ku lakukan.
Ia hanyalah aku yang kedua. Mustahil ia berkuasa padaku.
Hanya diam, tiada kuacuhkan aku pada cermin.
Persis denganku, bukanlah menjadikan aku menjadi aku.
Berani benar menceramahiku.
Aku kesal hingga memuncak. Ingin kuhajar aku yang satu lagi.
Melayanglah tinju pada cermin dimana aku berada,
agar tidak terlalu banyak ceramahnya padaku.
Ternyata aku tiadalah lagi ditempatnya kini.
Biarlah, pasti dan kurasa itu benar nyata,
tinggallah hanya ada aku seorang.
(Randit Firmansyah)