Selasa, 12 Agustus 2014

Sikopi Bicara

ak sengaja, disenggang waktu malam kembali ku habiskan secercah rasa di suatu taman. Terpaut oleh kesendirian, tanpa ada sepenggal ucapan yang terlontarkan. Kala suasana mulai kian menyepi, seraya kenangan yang mulai merasuk lubuk sunyi. Gelak tawa riang pasangan itu tak ku tanggapi, dan memilih untuk menyendiri. "Aku tidak sendiri", ujar benakku ini. Aku masih ditemani segelas kopi. Mungkin ia juga sedih, karena ditinggal si uap secara lirih. Terlihat perlahan, ia pun mulai kedinginan. Begitu juga dengan diriku, yang mulai menyelami kenangan—lagi secara perlahan. Tetapi kopiku masih tak ingin mau pulang, sebab ia masih ingin bersendu-sendu dengan malam minggu yang kelabu. Mulai lagi, dan lagi; tanpa diminta basa-basi, perihal sesosok raut wajah termangu bahagia akhirnya datang kembali untuk menghakimi. Kian menghampiri lalu menghantui; meluluhlantakkan sebuah ruang hati. Kembali sesak tak tertahan, sambil menghela napas dan mulai menyeruput kopi perlahan. Benar sekali, ia sudah dingin. Sudah tak lagi suci, akibat bertarung dengan riuh kisruh angin malam ini. Pikiran serta jiwa ini pun mulai bertanya sendiri, harus berlabuh dimana lagi? Aku tak ingin berlalulalang untuk hati yang jalang. "Mari kita melaut lagi, bersemayam mencari lubuk hati permaisuri. Jikalau perlu sampai perasaan ini mati", ujar si kopi yang merasa sama-sama dihakimi. ( Randit Firmansyah )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar