Jumat, 22 Agustus 2014

Hujan

Rintik hujan menari diatas kulit dinginku yang sebentar lagi akan membeku. Aku masih mengadahkan kepala. Menantang rintikan hujan yang menamparku secara bertubi-tubi. Rasanya perih, tentu. Tapi tidak lebih perih seperti saat kamu pergi dan menggantung apa yang seharusnya sudah menjadi kebahagiaan kita saat ini. Dan, akhirnya, langit kembali cerah. Kembalilah semua harapan dan anganku, tapi tidak dengan kamu. Kembalilah senyum dan bahagiaku, tapi tidak dengan kamu. Nyatanya Tuhan hanya mengembalikan apa yang aku butuhkan bukan apa yang aku ingin kan. Ah, benci aku melihatmu tertawa bahagia dengan sang puan, sedangkan aku disini sibuk memperbaiki apa yang kamu telah hanguskan. Tak perlu rasanya berlarut-larut menangisi ketiadaanmu, kamu yang bahagia tertawa begitu kencang seakan tak ada kesalahan apa-apa di masa lampau, sedikit pun barangkali tak ada lagi aku dipikiranmu. Terimakasih sempat mampir dan menanam kebun bunga di hatiku pun akhirnya kamu bumihanguskan semua itu. Aku akan mengingatmu sebagai orang yang pernah membahagiakanku walau luka yang akhirnya kamu berikan. Selamat berbahagia dengan lain puan.
( Randit Firmansyah )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar