Hitam-putih, datar, tenang, monoton. seperti itu gambaran kehidupanku sebelum seseorang pernah menyentuh inti paling dalam hati ini.
Dia datang ketika aku merasa tenang dengan kesendirian ini. Dia datang ketika aku merasa kesendirian bukanlah hal yang tidak wajar. Bagaikan karang yang di hempas ombak dan perlahan terkikis, dia berhasil meruntuhkan tembok pertahananku yang begitu tinggi. Dia masuk tanpa aba-aba sedikit pun dan tiba-tiba saja, selayaknya kebanyakan orang umum jatuh cinta, hidup terasa begitu indah.
Berwarna-seperti pelangi, emosi indah, seakan mengajak bertualang. Bersama senyum dan kata-kata klise-orang jatuh cinta seakan mengajak aku untuk mencoba hal-hal yang biasanya dapatku lakukan sendiri kini bisa lebih berwarna bila dilakukan bersama-sama.
Seakan kita menjadi dua insan penuh imajinasi yang buta akan kenyataan pahit yang sudah menanti di depan mata. Seakan lupa kenyataan pahit itu bisa saja mematikan kita berdua atau bahkan menguatkan kita berdua.
Singkat dan menyakitkan, ketika kita berdua di hadapkan oleh kenyataan pahit itu, dia lebih memilih untuk pergi, ketika aku berusaha melawan hukum alam yang tidak bisa di patahkan oleh cinta hanya untuk merasakan bahagia lebih lama bersamanya. Buram, pahit, mati rasa, berhenti di tempat. Kira-kira seperti itu gambaran kehidupanku setelah dia memilih untuk pergi dan melepaskan semuanya.
Maaf, kita memang tidak bisa mencintai Tuhan yang sama kan? Terima kasih pernah meyakinku kalau perbedaan bukanlah jadi masalah besar dalam hubungan kita, walaupun pada akhirnya kamulah yang harus pergi karena alasan tersebut.
(Randit Firmansyah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar