Selasa, 22 Juli 2014
Hilang Genggaman, Tumbuh Kenangan
Saat pagi buta lamunanku tersadar pada nestapa
Aku ingat lagi dengan semuanya
Tepat dikala itu hangatnya dan pesona dirinya merubuhkan denyut raga.
Seperti menarik garis waktu jauh kebelakang
Kala pertama aku melihat senyuman itu
Lalu dirinya menjelma dalam setiap bayang
Menghentak jantung setiap kali pandangan bertemu.
Detik yang kuhabiskan untuk menerka
Akhirnya lenyap dengan sendirinya
Lalu hatiku jatuh keras menerpa kenyataan,
Melihat dirinya merangkul hangat sosoknya dalam pelukan.
Aku pamit pada setiap rindu
Aku sudah tak bisa mengajaknya lagi untuk menemaniku.
Sekarang, impian yang ku bangun kuat dengan perasaan untuknya,
Menyisakan puing puing yang patah dihantam lara.
Waktu yang ku habiskan untuk memperhatikannya,
Membekas menjadi segurat bintang tanpa cahaya.
Lalu semua gelap,
Aku tak lagi bisa mendekap
Tiap aroma tubuhnya ketika dekat
Semuanya hilang sekejap
Saat dirinya tak memandangku lagi dengan lamat lamat.
Melepaskan genggaman, membuat tersadar akan kenyataan
Bahwa di sela jemari,bukan untuk ku isi
Rasanya seperti mengiris nadi, saat cinta ternyata hanya aku yang memakai hati.
Mencoba perlahan belajar melupa
Ya, bukan aku bahagianya
Membohongi diri dengan tertawa
Di depannya bermain peran seolah dalam hati tak ada luka.
Sebuah genggaman yang lepas
tumbuh menjadi kenangan,
Saat yang ku harapkan
pergi dengan mudah membawa tangisan
Dan pahit yang terlalu membekas.
Adalah aku yang melanjutkan hidup dalam rengkuhan kenangan
Meninggalkan ingatan yang tak berkesudahan
Lalu, aku berusaha menciptakan batas bagi hidupku
Karena perginya adalah mati untukku.
( Randit Firmansyah )
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar