Bukannya aku tidak mau mengerti. Aku sudah mencoba menginterpretasikan maksudmu dari segala macam pandangan yang ada, berusaha melihat situasi dari kacamatamu.
Tetapi, sungguh, kamu tidak pernah jelas, selalu berubah-ubah keputusan dan pikirannya, tanpa memikirkan aku yang terombang-ambing dalam cengkeraman lautanmu. Aku tidak bisa menemukan jawabannya.
Entah berapa kali aku sudah berputar-putar dengan mata lebar terbuka pada jam yang tidak seharusnya, karena tempat tidurku tidak lagi nyaman dan selimutku tidak lagi memberikan bantuan dalam dingin yang menusuk tulang ini. Tidak ketika aku sedang memikirkan betapa hangatnya pelukanmu.
Harapan untuk akhirnya menatap kedua bola matamu membuatku terus bertahan untuk memecahkan teka-teki yang rasanya tidak ada ujungnya. Kau ada, kemudian tiada. Ketika aku hendak beranjak, kau kembali.
Aku tidak tahu apakah kau memang sengaja atau ini hanya perasaanku saja. Mungkin aku yang memikirkan tentang kita terlalu jauh, atau mungkin kau yang memang buta.
Sebentar-sebentar muncul, lalu hilang. Di luar terlihat bersinar, namun dalamnya kosong. Datang secara cuma-cuma, tetapi pergi juga tanpa permisi.
Entah ini nyata atau tidak, namun sepertinya aku korban harapan palsu.
(Randit Firmansyah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar