Sebenarnya ini rahasia.
Tetapi tidak menjadi rahasia lagi terhitung Tanggal 15 Januari 2017 Pukul 00.06...
romantika
Minggu, 15 Januari 2017
Sabtu, 14 Januari 2017
Harusya sadar
Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kamu begitu merindu, namun menyadari jika keadaan tak lagi seperti dulu.
Jangankan untuk kembali bersatu, hanya sekadar bertemu saja belum tentu.
Yang kamu tahu hanyalah,
Kamu merindukan dirinya.
Merindukan saat ia pertama kali malu-malu berkenalan denganmu.
Merindukan tatapannya yang menggebu saat kali kedua bertemu denganmu.
Merindukan tawamu sendiri yang dapat hadir begitu mudahnya saat bersama dia.
Kamu sadar, tak baik hidup dalam bayang kenangan.
Namun, kamu bisa apa?
Kamu belum ingin melupakan.
Tak akan pernah melupakan.
Karena sejatinya, hingga sekarang, hanya ia yang mampu menghancurkan karang dan bersemayam selamanya dalam khayal.
Jangankan untuk kembali bersatu, hanya sekadar bertemu saja belum tentu.
Yang kamu tahu hanyalah,
Kamu merindukan dirinya.
Merindukan saat ia pertama kali malu-malu berkenalan denganmu.
Merindukan tatapannya yang menggebu saat kali kedua bertemu denganmu.
Merindukan tawamu sendiri yang dapat hadir begitu mudahnya saat bersama dia.
Kamu sadar, tak baik hidup dalam bayang kenangan.
Namun, kamu bisa apa?
Kamu belum ingin melupakan.
Tak akan pernah melupakan.
Karena sejatinya, hingga sekarang, hanya ia yang mampu menghancurkan karang dan bersemayam selamanya dalam khayal.
Sabtu, 07 Januari 2017
[Menanti Ragamu Kembali]
Akan kutemui kau di ujung pelangi.
Memangkas sebuah jarak yang selama ini hadir.
Andai waktu juga bisa kupangkas,
Akan aku buat secepat mungkin untuk pertemuan kita.
Ingatan yang enggan pergi melenyapkan semuanya.
Aku kian tertatih diantara untaian memori,
Aku kian terjerembab pada setiap langkah cerita kita.
Bukan tanpa alasan aku menunggu kedatangan yang tak lagi pernah ada. Sebuah perasaan yang terus kau siram dengan hujan.
Manjadikan aku memungut patahan kebahagiaan yang telah melebur.
Jeratan harapan yang pernah kau buat
Masih melekat kuat
Mengikat hati dan jiwaku.
Berbagai frasa indah sudah kutulis untukmu,
Dan namamu selalu tersirat di antara tulisanku
Agar mengembalikan kembali cinta
yang telah pergi dari hatimu.
Taburan bintang yang menghiasi matamu,
Lengkungan indah di bibirmu saat kau tersenyum,
Membuatku bertekuk lutut untuk memintamu kembali.
Aku menginginkan dirimu sekali lagi.
Namun, bagai berharap pada yang sudah sudah kau tetap pergi melangkah.
Hati yang kau susupi ternyata hanya sementara tuk singgah.
Aku lagi-lagi mengalah.
Mengalah pada sebuah kenyataan.
Ternyata memang merelakan tak semudah apa yang kau bilang.
Sebelum pertemuan tanpa tangis kau masih buat aku tertawa, lalu sekarang semua lenyap dan hilang.
Kini, ragaku menanti ragamu.
Meski yang kudapati selalu yang kusesali.
Aku tak bisa dan kau tak lagi ada.
Menanti kembali, mungkin sebuah pilihan tak berujung.
Membentur batin kian tersandung.
Penyesalan setelah hilang adalah harapan yang sia-sia.
Sebab, ada yang enggan kembali setelah susah payah dicari.
Perasaan yang selalu kau abaikan
Sering berpura-pura telah bahagia walau tanpa dirimu.
Membohongi diri sendiri demi merelakan kepergianmu.
Namun, hati selalu menjerit!
Memanggil namamu,
dalam dinginnya kerinduan.
Menanti raga yang sudah menjauh tidak semudah bermimpi.
Terkadang kuingin mengikuti keegoisan diri ini untuk pergi juga.
Namun, ragaku ini selalu menanti ragamu.
Yang entah kapan kembali aku pun tak tahu.
Minggu, 01 Januari 2017
Saya senang
Saya senang bisa mencintaimu dan kamu mengetahui itu.
Walau tak terbalas, tak apa, itu lain hal
tak relevan.
Biar,
biar saja saya terus melakukannya
sampai rasa ini hilang dengan sendirinya
sampai jangka waktu yang belum ditentukan.
Saya senang menulis sajak-sajak manja
tentang bagaimana senyummu berbaur manis dengan senja,
tentang betapa eloknya bagimu warna merah,
tentang betapa miripnya dirimu dengan bunga Azalea
— terkesan mewah namun aslinya sederhana
Saya suka sajak-sajak saya bukan semata-mata saya yang menciptakannya tapi juga karena kamu lah inspirasinya,
ada kamu di setiap
kata,
baris,
dan baitnya.
Mempermanis tiap gores tinta
menjadikan sajakku elok bak bernyawa
Saya senang setahun penuh saya mencintaimu,
lalu kemarin,
hari ini,
esok,
lusa,
dan seterusnya sampai memang saatnya rasa ini kadaluarsa.
Pun jika kamu muak dan ingin protes, silahkan, tak ku larang.
Namun kamu tak bisa mengaturku bahkan menyuruhku tuk berhenti menyanyangimu, sebab kamu tak ada hak sedikit pun atas perasaanku.
Walau tak terbalas, tak apa, itu lain hal
tak relevan.
Biar,
biar saja saya terus melakukannya
sampai rasa ini hilang dengan sendirinya
sampai jangka waktu yang belum ditentukan.
Saya senang menulis sajak-sajak manja
tentang bagaimana senyummu berbaur manis dengan senja,
tentang betapa eloknya bagimu warna merah,
tentang betapa miripnya dirimu dengan bunga Azalea
— terkesan mewah namun aslinya sederhana
Saya suka sajak-sajak saya bukan semata-mata saya yang menciptakannya tapi juga karena kamu lah inspirasinya,
ada kamu di setiap
kata,
baris,
dan baitnya.
Mempermanis tiap gores tinta
menjadikan sajakku elok bak bernyawa
Saya senang setahun penuh saya mencintaimu,
lalu kemarin,
hari ini,
esok,
lusa,
dan seterusnya sampai memang saatnya rasa ini kadaluarsa.
Pun jika kamu muak dan ingin protes, silahkan, tak ku larang.
Namun kamu tak bisa mengaturku bahkan menyuruhku tuk berhenti menyanyangimu, sebab kamu tak ada hak sedikit pun atas perasaanku.
Sabtu, 31 Desember 2016
Penghujung Desember
Detik hari menuju tahun berganti, aku kembali menyusur setapak jalan kecil. Jalan yang dulunya ku habiskan berdua olehmu dan tangan jahil kita yang saling mencolek pipi.
Mengingat itu betapa mesranya kita dulu, betapa bahagianya rasa memiliki seseorang sepertimu. Tak ada yang mampu mengalahkan senja ketika kita berpadangan di hadapan langit yang menyorot keindahannya berjuta warna.
Saat rambutmu beracak acakan diterpa angin, saat mata kita tak lepas menatap hingga ke sanubari hati.
Ketika itu aku tanggalkan namamu seluas luasnya perasaan ini. Sedalam dalamnya diri ini yang terus kau racuni lewat caramu yang meluluhkan hati.
Desember terlalu banyak memberiku cerita; juga kenangan yang tak pernah ku biarkan begitu saja.
Memang, daun yang gugur pada masanya terlihat indah, namun jika seseorang yang telah ku tempatkan dengan amat berarti haruskah ia pergi?
Lantas kau bisa lupa dengan segala hal yang kita lalui bersama semudah ini?
Tolong, jangan pernah kau buat aku harus merindu sejadi jadinya.
Aku hanya tak sanggup melawan luka saat ingatan tentang mu menguat dikepala.
Tempat yang biasa kita sambangi telah berganti sosok, jalan yang pernah kita lalui sudah semakin sepi. Ia hanya meninggalkan beribu cerita yang mengantarkan ku pada luka.
Aku ingat ucapan mu selepas kau menghangatkan bibirku, kau bilang
"Jika tangkai yang patah, kamu masih memiliki daun yang utuh untuk kau jaga."
Lalu ku tanya, apa maksud semua itu lalu kau jawab:
"Jika ada seseorang yang membuatmu kecewa nanti, kamu masih memiliki hati untuk kau berikan kepada yang menunggu mu dengan segala pengorbanannya yang begitu besar."
Mataku berkaca kaca—kau bilang beribu maaf yang sempat membuat airmata ku tak terbendung.
Hingga saat itu aku tak ingin melepas pelukanmu.
Jujur, begitu sesaknya saat kamu berusaha menguatkan ku untuk tak lagi memperhatikanmu—untuk tak lagi ada disetiap harimu yang selalu ku sambut dengan sangat bahagianya.
Kau melepasku saat besar harapanku untukmu, saat dalamnya perasaanku. Kau tenggelamkan aku seketika itu juga. Membuat ku masuk ke jurang lebih dalam dipenuhi luka.
Perhatianmu yang selalu membekas, senyuman yang kau gariskan begitu manis serta hal sederhana yang mampu membuatku tertawa kini terhempas.
Terseok bersama namamu yang tak bisa lagi ku miliki.
Desember tepat memberiku seseorang yang begitu berarti. Seseorang yang pernah ada dan membuatku susah melupakannya.
Ia masih tetap ada untuk sebagian rasa yang pernah tumbuh. Ia masih ada sebagai penghantar rindu sesekali tiap malam ku.
Desember yang kini, aku tak lagi menemukan itu semua. Hanya angan ku saja yang terus berputar merekam kisah kita lalu sekejap menghilang. Lalu seseorang menepuk punggungku dan mengajakku meninggalkan tempat itu.
Tempat yang dulu kau berikan sebagian hatimu untukku. Namun, kenyataan berkata kita tak lagi bersama.
Dan kini, biarlah semuanya tetap hidup meski berbeda. Kau dengan seseorang yang baru, dan aku dengan seseorang yang telah kutemui.
Kita hanya kisah yang pernah tercipta lewat tatap mata, dan berakhir dengan hati yang tak lagi sama.
Terima kasih untuk desember kala itu.
( Randit Firmansyah )
Mengingat itu betapa mesranya kita dulu, betapa bahagianya rasa memiliki seseorang sepertimu. Tak ada yang mampu mengalahkan senja ketika kita berpadangan di hadapan langit yang menyorot keindahannya berjuta warna.
Saat rambutmu beracak acakan diterpa angin, saat mata kita tak lepas menatap hingga ke sanubari hati.
Ketika itu aku tanggalkan namamu seluas luasnya perasaan ini. Sedalam dalamnya diri ini yang terus kau racuni lewat caramu yang meluluhkan hati.
Desember terlalu banyak memberiku cerita; juga kenangan yang tak pernah ku biarkan begitu saja.
Memang, daun yang gugur pada masanya terlihat indah, namun jika seseorang yang telah ku tempatkan dengan amat berarti haruskah ia pergi?
Lantas kau bisa lupa dengan segala hal yang kita lalui bersama semudah ini?
Tolong, jangan pernah kau buat aku harus merindu sejadi jadinya.
Aku hanya tak sanggup melawan luka saat ingatan tentang mu menguat dikepala.
Tempat yang biasa kita sambangi telah berganti sosok, jalan yang pernah kita lalui sudah semakin sepi. Ia hanya meninggalkan beribu cerita yang mengantarkan ku pada luka.
Aku ingat ucapan mu selepas kau menghangatkan bibirku, kau bilang
"Jika tangkai yang patah, kamu masih memiliki daun yang utuh untuk kau jaga."
Lalu ku tanya, apa maksud semua itu lalu kau jawab:
"Jika ada seseorang yang membuatmu kecewa nanti, kamu masih memiliki hati untuk kau berikan kepada yang menunggu mu dengan segala pengorbanannya yang begitu besar."
Mataku berkaca kaca—kau bilang beribu maaf yang sempat membuat airmata ku tak terbendung.
Hingga saat itu aku tak ingin melepas pelukanmu.
Jujur, begitu sesaknya saat kamu berusaha menguatkan ku untuk tak lagi memperhatikanmu—untuk tak lagi ada disetiap harimu yang selalu ku sambut dengan sangat bahagianya.
Kau melepasku saat besar harapanku untukmu, saat dalamnya perasaanku. Kau tenggelamkan aku seketika itu juga. Membuat ku masuk ke jurang lebih dalam dipenuhi luka.
Perhatianmu yang selalu membekas, senyuman yang kau gariskan begitu manis serta hal sederhana yang mampu membuatku tertawa kini terhempas.
Terseok bersama namamu yang tak bisa lagi ku miliki.
Desember tepat memberiku seseorang yang begitu berarti. Seseorang yang pernah ada dan membuatku susah melupakannya.
Ia masih tetap ada untuk sebagian rasa yang pernah tumbuh. Ia masih ada sebagai penghantar rindu sesekali tiap malam ku.
Desember yang kini, aku tak lagi menemukan itu semua. Hanya angan ku saja yang terus berputar merekam kisah kita lalu sekejap menghilang. Lalu seseorang menepuk punggungku dan mengajakku meninggalkan tempat itu.
Tempat yang dulu kau berikan sebagian hatimu untukku. Namun, kenyataan berkata kita tak lagi bersama.
Dan kini, biarlah semuanya tetap hidup meski berbeda. Kau dengan seseorang yang baru, dan aku dengan seseorang yang telah kutemui.
Kita hanya kisah yang pernah tercipta lewat tatap mata, dan berakhir dengan hati yang tak lagi sama.
Terima kasih untuk desember kala itu.
( Randit Firmansyah )
Sabtu, 24 Desember 2016
Tanpa judul part III
Malam ini, ribuan fikiran tentang kamu masih enggan beranjak pergi, ini sama seperti malam saat kamu mulai memutuskan pergi dari hidup saya.
Tak sedikit tindakan kecil yang perlahan mulai saya biasakan, tidur tanpa ucapan dari mu misalnya, namun ketika jiwa saya ingin memberontak, kembali teguran kecil muncul dari diri saya bahwa tak ada hak saya pada dirimu.
Bukan mudah untuk melupakan, dimana dulu kamu selalu dekat. Kamu yang selalu memberi kabar seolah saya bagian penting dihidupmu, kamu yang selalu ingin kita bersama, serta kamu yang selalu ingin tahu apa yang saya lakukan.
Hingga pada saatnya saya harus tahu, kamu sudah tak seperti dahulu. Entah siapa yang harus saya salahkan, entah hujan yang mengguyur bersama perasaanmu, ataukah angin yang menyapu seluruh hatimu. Tetapi jika kembali menyalahkan waktu rasanya tak adil.
Seperti
cahaya yang tergantikan gelap
senja yang tergantikan rembulan
matahari yang tergantikan bulan
dan aku yang tergantikan olehnya.
Kini sang mentari dan bintang pun tak akan mampu memungkirinya. Bahwasannya hati ini enggan menerima kepergianmu, mungkin saya terlalu berdusta. Tetapi tanpa perlu kamu tahu melupakan semua yang pernah dirajut tidaklah mudah.
Sudah berkali-kali saya menjahit kembali puing-puing kenangan agar sama seperti sebelumnya,
sudah berkali-kali saya coba menyapa mu, namun bukan balasan yang saya terima, bahkan untuk melihat pesan saya saja kamu enggan,
sudah berkali- kali pula saya mengobati sendiri sakit yang telah kamu torehkan dan hujan yang mengalir dipelupuk mata tak mampu dihindarkan
Namun sepertinya tusukan jarum jahit itu tak akan sanggup melukiskan pedihnya saya tanpamu, kali ini biarkan saya yang merasakan seluruh sakit ini.
Mungkin benar yang tuhan titipkan pada burung untuk disampaikan melalui hati saya, bahwa sudah tak pantas diri ini bertahan padamu. Karena pada kenyataannya, langkah kecil kebelakang dan perasaan bernama ikhlas lah yang saat ini harus saya lakukan. Bukan maksud hati ingin menyerah tetapi sudah tak pantas lagi saya mencintaimu, atau maaf sekedar berharap denganmu
Terima kasih teruntuk cinta yang sudah tak lagi ada, dan rindu yang selalu menemani.
Tak sedikit tindakan kecil yang perlahan mulai saya biasakan, tidur tanpa ucapan dari mu misalnya, namun ketika jiwa saya ingin memberontak, kembali teguran kecil muncul dari diri saya bahwa tak ada hak saya pada dirimu.
Bukan mudah untuk melupakan, dimana dulu kamu selalu dekat. Kamu yang selalu memberi kabar seolah saya bagian penting dihidupmu, kamu yang selalu ingin kita bersama, serta kamu yang selalu ingin tahu apa yang saya lakukan.
Hingga pada saatnya saya harus tahu, kamu sudah tak seperti dahulu. Entah siapa yang harus saya salahkan, entah hujan yang mengguyur bersama perasaanmu, ataukah angin yang menyapu seluruh hatimu. Tetapi jika kembali menyalahkan waktu rasanya tak adil.
Seperti
cahaya yang tergantikan gelap
senja yang tergantikan rembulan
matahari yang tergantikan bulan
dan aku yang tergantikan olehnya.
Kini sang mentari dan bintang pun tak akan mampu memungkirinya. Bahwasannya hati ini enggan menerima kepergianmu, mungkin saya terlalu berdusta. Tetapi tanpa perlu kamu tahu melupakan semua yang pernah dirajut tidaklah mudah.
Sudah berkali-kali saya menjahit kembali puing-puing kenangan agar sama seperti sebelumnya,
sudah berkali-kali saya coba menyapa mu, namun bukan balasan yang saya terima, bahkan untuk melihat pesan saya saja kamu enggan,
sudah berkali- kali pula saya mengobati sendiri sakit yang telah kamu torehkan dan hujan yang mengalir dipelupuk mata tak mampu dihindarkan
Namun sepertinya tusukan jarum jahit itu tak akan sanggup melukiskan pedihnya saya tanpamu, kali ini biarkan saya yang merasakan seluruh sakit ini.
Mungkin benar yang tuhan titipkan pada burung untuk disampaikan melalui hati saya, bahwa sudah tak pantas diri ini bertahan padamu. Karena pada kenyataannya, langkah kecil kebelakang dan perasaan bernama ikhlas lah yang saat ini harus saya lakukan. Bukan maksud hati ingin menyerah tetapi sudah tak pantas lagi saya mencintaimu, atau maaf sekedar berharap denganmu
Terima kasih teruntuk cinta yang sudah tak lagi ada, dan rindu yang selalu menemani.
Selasa, 20 Desember 2016
Tanpa judul part II
Ada waktu dimana kita harus membiasakan diri tanpa rasa apapun.
Kau yang menjauh dengan sangat jauh, dan aku yang kini selalu membenci keadaan saat tak ada yang bisa ku percaya lagi.
Sejenak, aku mencoba memahami hal-hal yang dulu pernah kau lakukan padaku.
Kala pertama kau buat aku begitu yakin dengan perasaanku.
Kau berhasil. Lewat caramu aku menaruh hati tanpa ku pikir dua kali.
Hingga terasa amat dalam membuatku tak ingin berjauhan ataupun kau tinggal pergi.
Tapi, kecewa terlanjur hadir saat harapan yang ku susun dipatahkan sebegitu mudah.
Sepucuk pesan kau utarakan menghujam luka dari sudut yang berbeda.
Membuatku akhirnya jatuh pada kenyataan sakit tak terkira.
Jika tiada harap lagi perasaan untukmu
aku ingin kenangan itu tetaplah sempurna
bersama dengan segala pilu
yang kau suguhkan lewat pahitnya sebuah luka.
Biarlah hal yang lalu hanya sekedar pengingat
bahwa kau pernah mengisi ruang di dada—juga pernah singgah meski aku ditinggal begitu cepat.
Mengulang bahagia mungkin sudah tak lagi bisa,
karena pada akhirnya kau telah mampu
melupakan ku lebih dulu.
Membiarkan rindu memulangkan kisah kita
Pada tempat yang lebih jauh.
Hingga aku yang tak kau lihat lagi,
kini harus memulihkan hati yang telah patah.
Sebisa mungkin agar tak ada rasa kembali—meski nyatanya aku tetaplah mudah
mengucap namamu dalam setiap doa.
Supaya kau tahu, bagaimana sulitnya aku lupa
dengan semua hal tentangmu yang memilih untuk tetap ada.
Saat kau tak bisa lagi ku nanti,
sesuatu yang menyisakan perih terus kau bawa.
Dalam setiap ingatanku padamu yang terlalu membekas pada diri ini.
Sekarang, masing-masing dari kita seakan saling menjadi orang asing.
Pertemuan sesering dulu tak pernah lagi terjadi.
Sekarang, kau dan aku mungkin saja berpura pura sibuk agar terlihat siapa yang paling bahagia diantara kita.
Walaupun nyatanya aku masih saja sering memperhatikanmu diam-diam tanpa kau ketahui.
Semoga dengan melepasku kau mampu temukan yang lebih baik dan bisa lebih membuatmu bahagia.
Kau yang menjauh dengan sangat jauh, dan aku yang kini selalu membenci keadaan saat tak ada yang bisa ku percaya lagi.
Sejenak, aku mencoba memahami hal-hal yang dulu pernah kau lakukan padaku.
Kala pertama kau buat aku begitu yakin dengan perasaanku.
Kau berhasil. Lewat caramu aku menaruh hati tanpa ku pikir dua kali.
Hingga terasa amat dalam membuatku tak ingin berjauhan ataupun kau tinggal pergi.
Tapi, kecewa terlanjur hadir saat harapan yang ku susun dipatahkan sebegitu mudah.
Sepucuk pesan kau utarakan menghujam luka dari sudut yang berbeda.
Membuatku akhirnya jatuh pada kenyataan sakit tak terkira.
Jika tiada harap lagi perasaan untukmu
aku ingin kenangan itu tetaplah sempurna
bersama dengan segala pilu
yang kau suguhkan lewat pahitnya sebuah luka.
Biarlah hal yang lalu hanya sekedar pengingat
bahwa kau pernah mengisi ruang di dada—juga pernah singgah meski aku ditinggal begitu cepat.
Mengulang bahagia mungkin sudah tak lagi bisa,
karena pada akhirnya kau telah mampu
melupakan ku lebih dulu.
Membiarkan rindu memulangkan kisah kita
Pada tempat yang lebih jauh.
Hingga aku yang tak kau lihat lagi,
kini harus memulihkan hati yang telah patah.
Sebisa mungkin agar tak ada rasa kembali—meski nyatanya aku tetaplah mudah
mengucap namamu dalam setiap doa.
Supaya kau tahu, bagaimana sulitnya aku lupa
dengan semua hal tentangmu yang memilih untuk tetap ada.
Saat kau tak bisa lagi ku nanti,
sesuatu yang menyisakan perih terus kau bawa.
Dalam setiap ingatanku padamu yang terlalu membekas pada diri ini.
Sekarang, masing-masing dari kita seakan saling menjadi orang asing.
Pertemuan sesering dulu tak pernah lagi terjadi.
Sekarang, kau dan aku mungkin saja berpura pura sibuk agar terlihat siapa yang paling bahagia diantara kita.
Walaupun nyatanya aku masih saja sering memperhatikanmu diam-diam tanpa kau ketahui.
Semoga dengan melepasku kau mampu temukan yang lebih baik dan bisa lebih membuatmu bahagia.
Langganan:
Komentar (Atom)