Jumat, 22 Agustus 2014

Hujan

Rintik hujan menari diatas kulit dinginku yang sebentar lagi akan membeku. Aku masih mengadahkan kepala. Menantang rintikan hujan yang menamparku secara bertubi-tubi. Rasanya perih, tentu. Tapi tidak lebih perih seperti saat kamu pergi dan menggantung apa yang seharusnya sudah menjadi kebahagiaan kita saat ini. Dan, akhirnya, langit kembali cerah. Kembalilah semua harapan dan anganku, tapi tidak dengan kamu. Kembalilah senyum dan bahagiaku, tapi tidak dengan kamu. Nyatanya Tuhan hanya mengembalikan apa yang aku butuhkan bukan apa yang aku ingin kan. Ah, benci aku melihatmu tertawa bahagia dengan sang puan, sedangkan aku disini sibuk memperbaiki apa yang kamu telah hanguskan. Tak perlu rasanya berlarut-larut menangisi ketiadaanmu, kamu yang bahagia tertawa begitu kencang seakan tak ada kesalahan apa-apa di masa lampau, sedikit pun barangkali tak ada lagi aku dipikiranmu. Terimakasih sempat mampir dan menanam kebun bunga di hatiku pun akhirnya kamu bumihanguskan semua itu. Aku akan mengingatmu sebagai orang yang pernah membahagiakanku walau luka yang akhirnya kamu berikan. Selamat berbahagia dengan lain puan.
( Randit Firmansyah )

Selasa, 19 Agustus 2014

19 Agustus 2014, Depok, Jatijajar.

Hitam-putih, datar, tenang, monoton. seperti itu gambaran kehidupanku sebelum seseorang pernah menyentuh inti paling dalam hati ini.

Dia datang ketika aku merasa tenang dengan kesendirian ini. Dia datang ketika aku merasa kesendirian bukanlah hal yang tidak wajar. Bagaikan karang yang di hempas ombak dan perlahan terkikis, dia berhasil meruntuhkan tembok pertahananku yang begitu tinggi. Dia masuk tanpa aba-aba sedikit pun dan tiba-tiba saja, selayaknya kebanyakan orang umum jatuh cinta, hidup terasa begitu indah.

Berwarna-seperti pelangi, emosi indah, seakan mengajak bertualang. Bersama senyum dan kata-kata klise-orang jatuh cinta seakan mengajak aku untuk mencoba hal-hal yang biasanya dapatku lakukan sendiri kini bisa lebih berwarna bila dilakukan bersama-sama.

Seakan kita menjadi dua insan penuh imajinasi yang buta akan kenyataan pahit yang sudah menanti di depan mata. Seakan lupa kenyataan pahit itu bisa saja mematikan kita berdua atau bahkan menguatkan kita berdua.

Singkat dan menyakitkan, ketika kita berdua di hadapkan oleh kenyataan pahit itu, dia lebih memilih untuk pergi, ketika aku berusaha melawan hukum alam  yang tidak bisa di patahkan oleh cinta hanya untuk merasakan bahagia lebih lama bersamanya. Buram, pahit, mati rasa, berhenti di tempat. Kira-kira seperti itu gambaran kehidupanku setelah dia memilih untuk pergi dan melepaskan semuanya.

Maaf, kita memang tidak bisa mencintai Tuhan yang sama kan? Terima kasih pernah meyakinku kalau perbedaan bukanlah jadi masalah besar dalam hubungan kita, walaupun pada akhirnya kamulah yang harus pergi karena alasan tersebut.

(Randit Firmansyah)

Sabtu, 16 Agustus 2014

Pada akhirnya

Pada akhirnya kamu pergi. Sama. Sama seperti yang telah lalu. Sama seperti yang terdahulu. Sama-sama pergi semudah itu. Datang membawa harap, pergi tanpa berucap. Datang menghapus luka, pergi meninggalkan luka yang lebih terasa seperti apa yang sudah aku terka. Kumohon, jangan menjadi brengsek yang bersembunyi dalam kantong kresek. Jangan menancapkan duri dan kemudian bertingkah seperti kau yang paling peduli. Pergilah, kau pun tahu aku sudah mulai lelah, akan sikapmu yang tak pernah merasa bersalah. Jangan kembali lagi, karena hati yang telah mati takkan bisa dihidupkan lagi oleh orang yang tak mengerti bagaimana menjaga hati.

( Randit Firmansyah )

Selasa, 12 Agustus 2014

Sikopi Bicara

ak sengaja, disenggang waktu malam kembali ku habiskan secercah rasa di suatu taman. Terpaut oleh kesendirian, tanpa ada sepenggal ucapan yang terlontarkan. Kala suasana mulai kian menyepi, seraya kenangan yang mulai merasuk lubuk sunyi. Gelak tawa riang pasangan itu tak ku tanggapi, dan memilih untuk menyendiri. "Aku tidak sendiri", ujar benakku ini. Aku masih ditemani segelas kopi. Mungkin ia juga sedih, karena ditinggal si uap secara lirih. Terlihat perlahan, ia pun mulai kedinginan. Begitu juga dengan diriku, yang mulai menyelami kenangan—lagi secara perlahan. Tetapi kopiku masih tak ingin mau pulang, sebab ia masih ingin bersendu-sendu dengan malam minggu yang kelabu. Mulai lagi, dan lagi; tanpa diminta basa-basi, perihal sesosok raut wajah termangu bahagia akhirnya datang kembali untuk menghakimi. Kian menghampiri lalu menghantui; meluluhlantakkan sebuah ruang hati. Kembali sesak tak tertahan, sambil menghela napas dan mulai menyeruput kopi perlahan. Benar sekali, ia sudah dingin. Sudah tak lagi suci, akibat bertarung dengan riuh kisruh angin malam ini. Pikiran serta jiwa ini pun mulai bertanya sendiri, harus berlabuh dimana lagi? Aku tak ingin berlalulalang untuk hati yang jalang. "Mari kita melaut lagi, bersemayam mencari lubuk hati permaisuri. Jikalau perlu sampai perasaan ini mati", ujar si kopi yang merasa sama-sama dihakimi. ( Randit Firmansyah )