Minggu, 30 Oktober 2016

Merintih;

Lagi-lagi kamu datang, untuk kesekian kalinya, untuk mengadu tentang permasalahan berat yang kamu alami.
Seperti tak ada habisnya ia yang kamu bicarakan, ia yang hilang diambil kenyataan.

Rintihan itu, rintihan rindu yang mendayu-dayu. Rintihan pilu yang membuat ngilu hati jika didengar, Kamu terlalu sakit, terlalu cinta pada ia yang fana.

Kamu belum sadar, ia yang telah pergi tak akan pernah bisa untuk kembali, walau sebentar, itu mustahil.

Kamu terus merintih, berkata rindu pada alamnya, berharap ia dikembalikan. Namun sekali lagi, itu mustahil.

Sayang, lepaskan iya yang pergi, rintihan itu menyayat dirinya disana.

Lihatlah sekitar, terlalu hitam karena kehilangan tawamu, Alam lebih merindukan senandung bahagiamu dibandingkan dengan dirimu yang merindukan keberadaannya.

Wahai kamu, merintih bukanlah jalan satu-satunya untuk merelakan kepergiannya, itu membuat dirinya menderita. Berbahagialah, karena dengan kepergiannya dirimu mendapat suatu kisah paling berharga.

(Randit Firmansyah)

Selasa, 25 Oktober 2016

Bohong

Bohong jika aku tak pernah rindu.
Bohong jika aku tak pernah menunggu.
Bohong jika aku tak mencari tahu tentang kabarmu. Belum ada wanita lain yang bisa memperbaiki, menyembuhkan atau mungkin membuatku jatuh cinta lagi.

Kamu itu bagaikan nadi,
tombol penggerak dan penghenti segala kerja hati. Aku tak peduli lagi dengan gengsi,
aku tak ingin lagi berpura-pura dengan perasaan ini, aku tak bisa lagi berperan seolah-olah jadi yang paling kuat.

Tanpamu,
aku merasa rindu berbincang berdua denganmu, seperti dulu lagi.
Aku rindu mendengar kata-katamu,
yang selalu bisa membuatku tertawa seperti dulu.

Tanpamu,
ada hal-hal sederhana yang kini baru kusadari terasa begitu istimewa. Aku sudah terbiasa dengan serangkaian hari kita yang penuh dengan peristiwa-peristiwa konyol.
Dari caramu membuatku ingin selalu bermanja di sampingmu dengan kau mencubit tanganku dan memukulku dengan canda, walaupun itu terlihat konyol.
Sungguh,
hal itulah yang membuatku selalu rindu padamu.

Dan tanpamu,
yang kurasa hanya hampa. Aku hanya tak ingin jauh, tak ingin membiarkan orang lain mengisi hatimu, membiarkan pria lain mengganti posisiku di ruang pikirmu. Karena yang kuinginkan hanya aku yang dijadikan tempat pertama olehmu.

Aku akan jadi lelakimu, berjuang lagi dan sebisaku takkan melepaskan yang terbaik yang ku punya. Dan mencintaimu, biarlah menjadi rahasia paling khusyuk dalam sujud-ku.

Kamis, 20 Oktober 2016

[Untuk Kamu Yang Telah Hadir Dalam Hidupku]


Aku tadinya bukan siapa-siapa dalam hidupmu, mungkin juga orang asing yang berusaha masuk dan ingin terus menetap dalam pikiranmu.
Disitulah aku mulai mencoba mengartikanmu, memahamimu dengan sagala hal yang ku tahu.

Semua perhatian yang ku lalukan,
ku selipkan secercah harapan—agar kelak kamu menyadari hal itu.
Sejauh detik beranjak menjadi menit,
perasaan ku kian menetap agar ia bisa lebih dalam mengenalmu dan nyatanya itu berhasil.

Betapa bahagianya perasaanku bisa dimiliki seseorang sepertimu.
Mataku tak bisa menolak berpaling ketika dua mata indah berhadapan lurus dengan pandanganku.
Untuk kesekian kalinya, aku lemah pada pandangan seseorang sepertimu—memaksaku agar tidak bisa jauh darimu.

Kamu tau? aku selalu mencari cara agar dirimu bisa kuprioritaskan diantara banyak hal dalam hidupku yang masih butuh pembelajaran.
Tak butuh waktu lama bahwa aku dan dirimu menyatu, membuat rasa nyaman tumbuh perlahan.

Dengan sabar aku belajar banyak hal bahwa sesuatu yang sempurna harus melalui proses yang berliku dan terjal.

Semenjak dirimu mengisi setiap hariku, kegiatanku, bahkan duniaku aku sempat berfikir ingin malas untuk mengerjakan apa-apa tentang apapun.
Kamu tau kenapa? karena duniaku sendiri sudah lebih berwarna dengan adanya dirimu.

Ketika kamu menciptakan ruang yang hangat untuk menjemput rindu, aku selalu menciptakan pertemuan yang hangat pula; agar kamu mau dan selalu menginginkan itu.

Setiap kata yang aku tulis tentang aku-kamu-kita dan begitu seterusnya
adalah rangkaian kisah kita yang tak akan ku lupa.
Aku yakin kamu mengerti, dan ingin semuanya selalu semakin dekat.
Akupun demikian.

Maaf, aku selalu cemas dan khawatir tentangmu.
Aku hanya tak ingin kehilangan kamu.
Maaf, mungkin perhatianku berlebihan.
Aku hanya tak ingin kamu nyaman dengan seseorang selain aku.

Teruslah genggam, jangan berhenti.
Teruslah disini, aku ingin lebih lama bersamamu.

Jika kamu lelah akulah bahu terdepan yang siap untuk merebahkan segala resah.
Jika kamu marah biarlah aku yang mengalah karena aku tak ingin ego membesarkan masalah yang ada.

Jika kamu kecewa akulah yang bersalah karena aku tak ingin sedikitpun melukai perasaan orang yang sangat ku sayangi sama seperti kepada ibuku.
Jika kamu sedih, akulah yang siap mengusap airmatamu agar tak jatuh dan menetes berkali kali.

Denganmu, seluruh tubuh ini akan selalu ada disaat kamu butuh, tetap bisa tegak disampingmu—agar kamu tak perlu khawatir dikala sendiri aku terus menemani; juga melindungi sesuatu yang berharga dalam hidupku.

Perlu kamu ketahui banyak orang yang gagal dengan cintanya karena mereka terlalu mudah mengulang kesalahan pada orang yang sama.

Aku memilihmu bukan karena aku menuntut sesuatu yang lebih terhadapmu, tapi kesederhanaan dan caramu lah yang membuat kamu berbeda diantara banyak wanita diluar sana.
Kamu menjadi pelengkap ketika hati ini kehilangan serpihannya.

Semoga kita semakin kuat untuk badai yang siap menerjang.
Semoga hatimu memanglah tempat yang tepat untuk ku isi. Tetaplah terus ada, untuk setiap cerita yang tak pernah hilang.
Teruslah saling menguatkan dari hal yang bisa memisahkan.
Memilikimu saat ini,
adalah jawaban doaku tiap menjelang pagi.

Jumat, 14 Oktober 2016

[Pertemuan Yang Cukup Singkat]



Perkenalan aku bersama kamu adalah perkenalan lucu. Kita bertemu dengan keadaan baik, sangat baik. Lalu jalani kisah berdua yang membuatku bahagia. Kata-katamu yang sering kamu ucap dan kamu bilang padaku membuatku dengan mudah menaruh hati padamu. Dengan mudah memberikan seluruh kepercayaanku untukmu. Dan dengan mudahnya memberikan seluruh hati dengan tulusnya.

Menjalani kisah indah selama beberapa waktu.

Iya indah,

Hanya saja menurutku. Menurutmu mungkin sebaliknya. Kau datang mengobati luka lama  di hatiku. Namun, tanpa disangka kamulah yang lebih membuat luka di hati ini.

Bodoh...

Bodoh karena aku bisa semudah itu menaruh hatiku dengan tulus kepadamu.
Tulusnya menyayangimu ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan untukku.
Kamu datang memberi banyak harapan, lalu kau meninggalkan aku begitu saja.

Pikir!

Apa kau pikir semudah itukah melupakanmu ?
kurasa kamu tidak akan mau memikirkannya.

Mengapa?

Mengapa aku menaruh perasaan kepada mu?
Seharusnya dari awal kau tak usah datang kepadaku.
Mengapa kau juga memberi perhatian lebih? Mengapa kau membuatku tertarik padamu?
Dan pada akhirnya aku jatuh hati.
Lalu, mengapa kau pergi begitu saja tanpa mengucap kata pamit yang indah ?
Kau menggantung hatiku yang sudah
berandai-andai kau ambil. Menyebalkan!

'Terkadang, pertemuan dan perpisahan terjadi terlalu cepat. Namun, kenangan dan perasaan yang tinggal terlalu lama.'

Rabu, 05 Oktober 2016

[Aku, Kamu dan Dia]



Pertama tak ada yang menduga aku mempunyai perasaan yang sedalam ini. Hanya dengan hal-hal sederhanamu aku begitu tertarik.

Lewat beberapa obrolan kita dalam percakapan, aku selalu menyukai caramu mengajakku berbincang, bercanda dan membuatku tertawa.

Kadang secara tak sadar kamu menghiburku ketika tak ada seseorang yang bisa ku ajak berbagi kesedihan. Kamu berusaha menguatkan aku agar tak semudah itu menyerah.

Lalu, rasa nyaman timbul ketika kedekatan kita sangatlah dekat dan erat—saat kamu memposisikan aku sebagaimana perasaan yang ku punya untukmu.

Kita menjadi dua orang yang tak mau dipisahkan kala itu. Waktu pun ku paksa agar tak berlalu begitu cepat.
Mungkin kamu belum menyadari sepenuhnya perihal sesuatu yang ku pendam; juga yang ku sembunyikan dalam tawa.
Tapi, aku ingin agar kamu mengutarakannya lebih dulu meyakinkan dengan tatapanmu hingga aku benar-benar seutuhnya milikmu.

Lama ku menunggu, kamu malah semakin membuatku serba salah. Dilema menerjangku beberapa kali. Apakah harus lebih dulu aku yang mengatakan daripada harus menunggu membuatku semakin salah tingkah didepanmu.

Akhirnya aku nekat memberanikan diri membuka obrolan selain hal yang sering kita bahas yang nyatanya  tak begitu penting.
Aku menguatkan diriku agar tak ada yang salah ketika aku mengatakan itu.

Tapi ternyata, setelah ku tanya dirimu agar lebih meyakinkanku, Kenyataan menampar ku dengan sangat keras.
Tanganku seakan tak kuat lagi untuk melanjutkan ketikan.
Kecewa datang begitu cepat saat aku baru ingin memulai bahagia.

Ternyata ada seseorang yang lebih dulu kamu bahagiakan,
lebih dulu kamu jaga; juga lebih dulu kamu buat nyaman.

Dia yang telah menempatkan namamu terlebih dulu,
Dia, yang bisa sepenuhnya kamu miliki
Dia, yang berhasil meluluhkanmu sebelum aku.

Sekarang, sudah tak pantas lagi rasanya aku hadir untukmu—untuk setiap hal yang kita punya.
Sekarang aku mundur lebih jauh, menjauhkan perasaan ini.

Jagalah dia selagi kamu masih bersamanya. Dia yang lebih pantas bersamamu bukan denganku.
Dia yang harus kau jaga bukan aku.
Dia yang harus lebih kau lihat lagi perasaanya yang mungkin saja lebih dalam dibanding aku.

Kita tetap ada, namun cerita tentangmu saja yang harus berhenti. Bukan karena aku tak ingin, Hanya saja hatiku tak akan baik merebut kebahagiaan seseorang dengan cara egois teruntuk perasaan ku untukmu.

Airmata yang jatuh adalah bukti bahwa hati telah sepenuhnya berharap. Namun, kenyataan tetaplah harus aku terima agar, aku bisa mengikhlaskan semua yang pernah ada. Supaya luka tak terus menghancurkanku lewat airmata.

30 (Harusnya pergi)

Malam ini, ribuan fikiran tentang kamu masih enggan beranjak pergi, ini sama seperti malam saat kamu mulai memutuskan pergi dari hidup saya.

Tak sedikit tindakan kecil yang perlahan mulai saya biasakan, tidur tanpa ucapan dari mu misalnya, namun ketika jiwa saya ingin memberontak, kembali teguran kecil muncul dari diri saya bahwa tak ada hak saya pada dirimu.

Bukan mudah untuk melupakan, dimana dulu kamu selalu dekat. Kamu yang selalu memberi kabar seolah saya bagian penting dihidupmu, kamu yang selalu ingin kita bersama, serta kamu yang selalu ingin tahu apa yang saya lakukan.

Hingga pada saatnya saya harus tahu, kamu sudah tak seperti dahulu. Entah siapa yang harus saya salahkan, entah hujan yang mengguyur bersama perasaanmu, ataukah angin yang menyapu seluruh hatimu. Tetapi jika kembali menyalahkan waktu rasanya tak adil.

Seperti
cahaya yang tergantikan gelap
senja yang tergantikan rembulan
matahari yang tergantikan bulan
dan aku yang tergantikan olehnya.

Kini sang mentari dan bintang pun tak akan mampu memungkirinya. Bahwasannya hati ini enggan menerima kepergianmu, mungkin saya terlalu berdusta. Tetapi tanpa perlu kamu tahu melupakan semua yang pernah dirajut tidaklah mudah.

Sudah berkali-kali saya menjahit kembali puing-puing kenangan agar sama seperti sebelumnya,
sudah berkali-kali saya coba menyapa mu, namun bukan balasan yang saya terima, bahkan untuk melihat pesan saya saja kamu enggan,
sudah berkali- kali pula saya mengobati sendiri sakit yang telah kamu torehkan dan hujan yang mengalir dipelupuk mata tak mampu dihindarkan

Namun sepertinya tusukan jarum jahit itu tak akan sanggup melukiskan pedihnya saya tanpamu, kali ini biarkan saya yang merasakan seluruh sakit ini.

Mungkin benar yang tuhan titipkan  pada burung untuk disampaikan melalui hati saya, bahwa sudah tak pantas diri ini bertahan padamu. Karena pada kenyataannya, langkah kecil kebelakang dan perasaan bernama ikhlas lah yang saat ini harus saya lakukan. Bukan maksud hati ingin menyerah tetapi sudah tak pantas lagi saya mencintaimu, atau maaf sekedar berharap denganmu

Terima kasih teruntuk cinta yang sudah tak lagi ada, dan rindu yang selalu menemani.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Bertahan walau sulit

Untuk yang pernah bertahan walau sulit,
sadarlah, hatimu jangan terus kau paksa.
Ia mudah rapuh dengan segala hal yang bisa membuatnya jatuh.

Sadarlah, dengan seberapa besar kamu mencintai dan menyayanginya kalau hanya luka yang diterima untuk apa?
Jika hanya membuatmu kecewa, sudahkah kamu lelah? atau malah terus mengalah demi membuatnya tetap ada?

Sadarlah, sudah berapa airmata yang kamu tumpahkan karenanya?
Sementara disana, dia tak pernah mengerti kesedihanmu—tak pernah peduli dengan apa yang kamu alami.

Janganlah melemahkan dirimu seperti itu. Perasaan tak boleh semakin kamu buat hancur.
Tegaskan, bahwa kamu kuat, bahwa kamu tak sebodoh memaafkan kesalahan yang terlanjur membekas.

Memang, sungguh berat melepas begitu saja seseorang yang sudah terlalu kita tempatkan sangat dalam pada diri kita. Namun, sesuatu yang kamu simpan terus menerus lewat tangis juga tak akan baik.

Ketahuilah, bahagia bukan hanya mampu memiliki, melainkan harus kamu sadari.
Seseorang yang tak lagi bisa membuatmu nyaman tak sepatutnya dipertahankan.
Jangan biarkan hatimu terus terluka hanya karena memaklumi sikapnya.

Kamu tak perlu takut kehilangan. Hanya saja ada proses setelahnya yang membuatmu harus lebih siap. Setelah gagal dengan seseorang maka harusnya kamu berfikir sebelum memilih agar tak dijatuhkan dalam kesalahan yang sama.

Hargailah dirimu teruntuk juga perasaanmu. Kecewa dalam hal cinta adalah biasa. Karena pada dasarnya manusia tempatnya melalukan kesalahan.
Walau kenyataannya sangat sulit membenci seseorang jika kita tetap peduli.

Bebaskan saja dulu, mungkin kamu tanpanya tak bisa apa-apa, tapi biarlah. Hatimu perlu hal-hal yang menyenangkan bukan selalu yang menyedihkan.

Tenang saja, seseorang yang terbaik terkadang datang terlambat. Ia hanya ingin, kamu sudah membersihkan segala ingatan tentangnya agar bisa sepenuhnya menerima.