Selasa, 29 Juli 2014

Tolong

Teruntuk nyonya yang pernah berkata terlalu banyak drama dalam sajak luka, Lenyap sudah seperti rintik hujan petang tadi, luruh tersapu angin yang datang bersamaan dengan kenangan, tetapi ada satu yang tertinggal, perasaan ini. Tolong siapapun, bawa perasaan ini, saya sudah lelah dengan bebannya. Tadi pagi sebelum hujan turun, terkuak satu fakta. Saya takut, saya takut kalau semesta memberitahumu tentang semua ini, perlahan waktu menarikmu pergi, bahkan sebelum saya memahami kamu. Namun sepertinya malam menghendaki apa yang kamu mau, saya yang harus menghilang kan? Seperti senja yang tergantikan rembulan. Tapi, saya mohon. Untuk mungkin terakhir kali ini, saya ingin meluruhkan apa yang saya simpan dalam-dalam, bukan dalam bentuk pengakuan, hanya bukti dari kelelahan pengganti rintik hujan yang tak kunjung datang saat saya membutuhkannya untuk menyamarkan luka saya. ( Randit Firmansyah )

Selasa, 22 Juli 2014

Hilang Genggaman, Tumbuh Kenangan

Saat pagi buta lamunanku tersadar pada nestapa Aku ingat lagi dengan semuanya Tepat dikala itu hangatnya dan pesona dirinya merubuhkan denyut raga. Seperti menarik garis waktu jauh kebelakang Kala pertama aku melihat senyuman itu Lalu dirinya menjelma dalam setiap bayang Menghentak jantung setiap kali pandangan bertemu. Detik yang kuhabiskan untuk menerka Akhirnya lenyap dengan sendirinya Lalu hatiku jatuh keras menerpa kenyataan, Melihat dirinya merangkul hangat sosoknya dalam pelukan. Aku pamit pada setiap rindu Aku sudah tak bisa mengajaknya lagi untuk menemaniku. Sekarang, impian yang ku bangun kuat dengan perasaan untuknya, Menyisakan puing puing yang patah dihantam lara. Waktu yang ku habiskan untuk memperhatikannya, Membekas menjadi segurat bintang tanpa cahaya. Lalu semua gelap, Aku tak lagi bisa mendekap Tiap aroma tubuhnya ketika dekat Semuanya hilang sekejap Saat dirinya tak memandangku lagi dengan lamat lamat. Melepaskan genggaman, membuat tersadar akan kenyataan Bahwa di sela jemari,bukan untuk ku isi Rasanya seperti mengiris nadi, saat cinta ternyata hanya aku yang memakai hati. Mencoba perlahan belajar melupa Ya, bukan aku bahagianya Membohongi diri dengan tertawa Di depannya bermain peran seolah dalam hati tak ada luka. Sebuah genggaman yang lepas tumbuh menjadi kenangan, Saat yang ku harapkan pergi dengan mudah membawa tangisan Dan pahit yang terlalu membekas. Adalah aku yang melanjutkan hidup dalam rengkuhan kenangan Meninggalkan ingatan yang tak berkesudahan Lalu, aku berusaha menciptakan batas bagi hidupku Karena perginya adalah mati untukku. ( Randit Firmansyah )

Jumat, 11 Juli 2014

Maksudmu

Bukannya aku tidak mau mengerti. Aku sudah mencoba menginterpretasikan maksudmu dari segala macam pandangan yang ada, berusaha melihat situasi dari kacamatamu.

Tetapi, sungguh, kamu tidak pernah jelas, selalu berubah-ubah keputusan dan pikirannya, tanpa memikirkan aku yang terombang-ambing dalam cengkeraman lautanmu. Aku tidak bisa menemukan jawabannya.

Entah berapa kali aku sudah berputar-putar dengan mata lebar terbuka pada jam yang tidak seharusnya, karena tempat tidurku tidak lagi nyaman dan selimutku tidak lagi memberikan bantuan dalam dingin yang menusuk tulang ini. Tidak ketika aku sedang memikirkan betapa hangatnya pelukanmu.

Harapan untuk akhirnya menatap kedua bola matamu membuatku terus bertahan untuk memecahkan teka-teki yang rasanya tidak ada ujungnya. Kau ada, kemudian tiada. Ketika aku hendak beranjak, kau kembali.

Aku tidak tahu apakah kau memang sengaja atau ini hanya perasaanku saja. Mungkin aku yang memikirkan tentang kita terlalu jauh, atau mungkin kau yang memang buta.

Sebentar-sebentar muncul, lalu hilang. Di luar terlihat bersinar, namun dalamnya kosong. Datang secara cuma-cuma, tetapi pergi juga tanpa permisi.

Entah ini nyata atau tidak, namun sepertinya aku korban harapan palsu.

(Randit Firmansyah)

Kamis, 10 Juli 2014

10 Juli 2016, 8.24 am

Salahkah aku beralih menginginkan bulan yang berselimut rahasia,
bila mentari terlalu sibuk menebar pesonanya?

Salahkah aku bermain-main dengan malam yang kelam,
bila cerahnya siang tak mampu membuat bibir ini tersenyum?

Salahkah aku menjadi nyaman dengan dingin yang menusuk,
bila hangat yang biasa memeluk justru terasa hambar?

Salahkah aku merasa satu dengan hening,
bila ramai selalu terkesan mengintimidasi?

Lantas salahkah aku,
mengakhiri cerita tentang kita,
bila tinta yang menuliskannya adalah darah?

(Randit Firmansyah)