Kamis, 20 Juni 2013

Puisi Terakhir

Aku ingin kalian yang membaca setiap kata dalam tulisan ini,
memahami bahwa aku tidaklah gila.
Bahwa aku sedang berjuang.

Setiap orang berhak memilih dalam hidupnya,
Aku memilih untuk menemui sang pencipta.
Berdiskusi  tentang segala hal yang Ia telah perbuat.

Didunia ini, manusia harus menjalani yang telah tertulis.
Bukankah  terlalu kejam untuk mahluk yang diberi pikiran?
Mereka yang berteriak tentang kemerdekaan,
Yang selalu nyaring dalam membela hak asasi.
Namun, kenapa tidak ditujukan kepada Sang Pencipta?
Mungkin terlalu takut dibakar.

Jangan sebut aku pengecut,
tidak banyak orang yang berani berjalan sejauh langkahku,
Sebutlah aku pejuang.

Jangan sebut aku gila,
sebab hidup mu sekarang sedang kubela.
Sebutlah aku telah tiada.

(Randit Firmansyah)

Rabu, 22 Mei 2013

waktu

Ketiadaan akan ada pun menjadi tiada.
Busur melesat menembus jiwa dari detik cakrawala yang melambat.
Padaku dan padamu goresan takdir ditempatkan.
agar berdiam saja menetap pada suatu masa.
Peran telah dipersiapkan, kostum telah dikenakan.
Cukup meninggalkan jejak hidup yang bernama sejarah.
Kitapun pada akhirnya hanyalah bagian dari waktu,
Terus berputar didalam lingkaran yang sama.

(Randit Firmansyah)

Minggu, 05 Mei 2013

Sajak Malam Minggu

Sendok dan garpu berdentang gemerincing piring.
Obrolan kian ramai memenuhi kafe muda-mudi.
Kudapan nikmat pun terus-menerus disajikan,
hingga mulut mengunyah tiada henti.

Disalah satu meja, cinta sedang meramal hidup,
sambil merapal lembut mantra-mantra sederhana.
Seketika semua menjadi hening; berhenti bersuara.
Sepasang bibir lembut saling bertemu, menghempas keraguan.
Musik pembuka mulai mengalun, semua pun ramai kembali.

(Randit Firmansyah)

Rabu, 01 Mei 2013

Cinta Dibawah Langit


Nada indah yang memperkenalkan diri sebagai nasihat.
Susu mengalir menjadi nyawa menggantikan darah.
Koor doa keselamatan pada orkestra yang kusebut ibu.

Aku yang terlahir dari rahimmu.
Aku yang tertidur dalam pangkuanmu.
Aku yang menangis didadamu
  
Seperti lembut elus jemari pada pipiku
Seperti hangat dekap pada kalutku
Serupa tetesan air hujan , pada waktu yang lain adalah cinta
(Randit Firmansyah) 


Kamis, 25 April 2013

Sebuah Harapan 2

Aku berteman kata.
Aku berteman koma.
Aku berteman seru.
Aku berteman tanya.
Aku berteman titik.

Aku berteman nalar.
Aku berteman ilmu.
Aku berteman perasaan.
Aku berteman iman.
Jauh dari tanpa dasar.

Aku berteman suku.
Aku berteman budaya.
Aku berteman warna.
Aku berteman keyakinan.

Aku berteman cinta.
Melebihi batasan asmara.
Kepada siapa saja yang memiliki dan tidak.
Meski berabad kemudian cinta itu tampak.

Aku berteman tawa.
Aku berteman haru.
Aku berteman takut.
Aku berteman berani.
Aku berteman bahagia.
Aku berteman tangis.
Aku berteman amarah.
Aku berteman kecewa.

Aku berteman pemikiran.
Aku berteman langkah.
Aku berteman lorong.
Aku berteman masa depan.
Aku berteman keterpihakan.

Aku berteman hidup.
Perjalanan panjang berbeda kisah.
Segalanya layak didengarkan,
dalam diskusi para plesir.
Lalu kembali kepada damai kematian.

(Randit Firmansyah)