Rabu, 30 Desember 2015

30 (harusnya febuary)

Pada malam itu, malam menyakitkan itu, aku tidak tidur. Aku mencoba mengulang setiap bagian yang kamu pecahkan satu persatu. Aku berusaha mengingat bagian mana yang aku lewatkan. Apa yang sebenarnya selama ini kamu cari. Kamu yang berusaha pergi dan kita yang tidak sama lagi.

Pada malam itu, aku memilih tetap membuka mata hingga pagi karena jika aku tertidur saat itu, aku takut melewatkan permintaan maaf darimu.

Kemudian waktu tetap berlalu dan aku terus bertanya apa yang menyebabkanmu tidak lagi ingin melihatku?

Apa yang salah?

Tapi, saat ini aku sadar.
Tidak pernah ada yang salah. Justru selama ini kamu tidak pernah ada disitu. Kamu tidak pernah benar-benar mengagumiku. Kamu tidak pernah benar-benar menyukai wangi dan caraku tertawa. Kamu tidak pernah bermimpi tentangku.

Kamu hanya ingin memiliki teman, tidak peduli bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya tetapi kamu hanya tidak suka sendirian. Kamu hanya ingin ditemani saat kamu tidak sibuk dan tidak tau ingin apalagi.

Kamu hanya berbangga hati telah mendapatkan aku yang teman-temanmu kagumi. Kamu merasa menang karena aku memilihmu daripada yang lain.

Oh, betapa terlambatnya aku.
Kamu bahkan tidak pernah benar-benar melihatku.
Mengapa aku justru bertanya apa yang menghentikanmu soal itu?

Padahal selama ini aku kira kita ini nyata.

Kamis, 01 Oktober 2015

Maaf

ah, maaf kan saya kalau sering mengganggumu dengan terus menerus mengirim pesan singkat, sebab itu salah satu cara agar kamu tetap ingat dengan keberadaan saya maaf juga kalau saya sering memaksakan tuk terus berbincang saban malam, padahal jelas-jelas mati di ujung kata dan kamu pun jelas tak lagi mau memperpanjang pembicaraan— seharusnya saya sadar bahwa saya ini membosankan maaf tak bisa membuatmu tertarik bahkan tersenyum manis, begitu saja saya tak becus maaf juga sering mengajakmu tuk menghabiskan waktu dengan saya yang jelas penolakan yang kamu beri. maaf kalau saya sering melempar aksara rindu, menuliskan puisi teruntukmu, bahkan ingin selalu dekat tanpa ada yang mengganggu semacam keras kepala bercampur bodoh, tak paham-paham atas isyarat "jangan dekati saya" yang kamu berikan. ah, pokoknya maaf telah mencoba masuk kedalam kehidupanmu yang jelas ada larangan masuk yang dikhususkan untukku. (Randit Firmansyah)

Minggu, 06 September 2015

[Kutemukan Kamu]



Suatu hari nanti, aku ingin singgah di kedua matamu. Mencari tahu, kira-kira apa saja yang kautatap dari balik bingkai hitam yang kaukenakan itu? Penasaran yang menghantuiku terus-terusan mempertanyakan.

Pertemuan kita yang sangat lucu—aku menemukanmu di antara rinai hujan dan kamu sedang berteduh di tempatku berdiri—dengan aku yang begitu saja terpaku.

Perasaan memang sungguh menarik. Saat aku, tanpa henti, didera kenangan demi kenangan yang menempatkanku dalam sebuah jejalanan bernama penantian. Saat aku menunggu seseorang yang enam tahun taklagi mengenaliku (mungkin) dan seseorang yang kutautkan perasaan diam-diam selama dua tahun belakangan. Jujur, rasa lelah begitu semangat menerjang tubuhku bertubi-tubi.

Aku menyerah.

Untuk saat ini, aku mengibarkan bendera putih untuk keduanya dan kemudian mencoba untuk menikmati udara segarku sendiri. Berjaga-jaga, barangkali, suatu waktu nanti, takdir kembali mempertemukanku dengan keduanya. Setidaknya, detik ini, aku memutuskan untuk melalui jalan yang berbeda.
Dan di jalan itu kutemukan kamu.

Sabtu, 14 Februari 2015

Bukan rindu

Ini bukan rindu,
Tapi terlalu memenuhi kalbu, di bawah naungan malam kelabu, saya bertanya-tanya, mengapa kamu terlalu biru? Bahkan sangat abu-abu.

Hari ini bersikap seakan tak pernah ada kata luka, namun, pernah suatu waktu ada yang berkata kamu menyukai dirinya.

Sebenarnya saya tak ingin mengikutsertakan perasaan saya, karena ia sudah pernah terjatuh dari tingginya angan semata. Tetapi, ia terus memaksa, katanya untuk yang kali ini berbeda, maksudnya berbeda cara menyakitinya?