Kadang, ada hal-hal yang belum diselesaikan, namun terlanjur usai.
Seperti ketika aku memilih mematahkan hati untuk kemudian kamu miliki, tetapi kamu justru memilih pergi, menanggalkan semua mimpi.
Entah aku yang terlalu banyak berharap, atau bagimu, menyayangiku begitu berat?
Rasanya aku ingin menyimpanmu untuk diriku sendiri,
tapi aku sadar, aku tidak pernah akan.
Bagaimana bisa, jikalah untuk bertemu denganku saja, kamu suka mengarang lupa?
Tidak, tidak pernah ada kita, sayang. Karena sesungguhnya, semua yang kita lakukan ini hanya hiburanmu belaka. Sebuah pura-pura, yang terlanjur menyenangkan untuk kamu lewatkan begitu saja.
Haruskah semua ini selesai; hal-hal yang bahkan belum pernah kita mulai?
Namun ditinggalkan olehmu adalah sesak,
dan jatuh cinta kepadamu menjelma kesendirian
Rabu, 29 Oktober 2014
Jumat, 17 Oktober 2014
Langit dan Dirimu
Lagi-lagi aku hanya diam sembari menatap langit. Ingin rasanya bisa terbang bebas di udara seperti yang dilakukan burung setiap harinya, atau setidaknya menikmati rasanya jadi awan yang berkelana mengikuti alur yang ada.
Damai rasanya hanya bersantai memandang ke atas sana, memandang biru langit yang berujung dan membayangkan hitam angkasa yang takbertepi.
Tapi jika kamu memintaku untuk membandingkan indahnya langit dibandingkan dirimu. Tentu saja. Indahnya langit masih bukanlah tandingan indah dirimu. (Ah yang benar saja).
Menurutku, tidak salah jika kamu kubandingkan dengan langit. Memang. Hanya kalian berdualah yang berhasil mencuri perhatianku hingga tanpa sadar aku kehilangan banyak waktuku karenanya.
Kalian berdua mirip ya.
Damai yang kurasakan saat bersamamu sama seperti damai yang diberikan langit pagi, seakan memberi udara segar yang mengalir menyejukkan tubuhku.
Eloknya sikapmu sama seperti eloknya langit siang yang berselimut awan, melindungi siapapun yang ada dibawahnya meskipun ia sendiri tersengat panas mentari.
Kamu anggun. Seanggun langit senja yang berhiaskan pola pola mengagumkan. Kalian berdua adalah lukisan Tuhan terindah yang dihadirkan di dunia.
Ah...
Kamu juga misterius seperti langit malam. Seakan menyembunyikan suatu misteri yang tidak terjawab oleh logika. Tapi menurutku, justru sisi misteriusmu ini yang membuatmu lebih menarik. Karena bulan yang indah memang hanya muncul saat malam hari bukan?
Mungkin suatu hari nanti aku bisa mengajakmu ke langit;
Bermain disana, hingga kamu lupa bahwa dulu kita tidak saling mengenal.
Berbagi cerita, seolah tak ingin waktu menghentikan kita.
Bercanda, hingga yang melihat kita iri dan ingin mengikuti.
Tapi takkan kuizinkan.
Karena yang aku inginkan, hanya langit dan dirimu.
Damai rasanya hanya bersantai memandang ke atas sana, memandang biru langit yang berujung dan membayangkan hitam angkasa yang takbertepi.
Tapi jika kamu memintaku untuk membandingkan indahnya langit dibandingkan dirimu. Tentu saja. Indahnya langit masih bukanlah tandingan indah dirimu. (Ah yang benar saja).
Menurutku, tidak salah jika kamu kubandingkan dengan langit. Memang. Hanya kalian berdualah yang berhasil mencuri perhatianku hingga tanpa sadar aku kehilangan banyak waktuku karenanya.
Kalian berdua mirip ya.
Damai yang kurasakan saat bersamamu sama seperti damai yang diberikan langit pagi, seakan memberi udara segar yang mengalir menyejukkan tubuhku.
Eloknya sikapmu sama seperti eloknya langit siang yang berselimut awan, melindungi siapapun yang ada dibawahnya meskipun ia sendiri tersengat panas mentari.
Kamu anggun. Seanggun langit senja yang berhiaskan pola pola mengagumkan. Kalian berdua adalah lukisan Tuhan terindah yang dihadirkan di dunia.
Ah...
Kamu juga misterius seperti langit malam. Seakan menyembunyikan suatu misteri yang tidak terjawab oleh logika. Tapi menurutku, justru sisi misteriusmu ini yang membuatmu lebih menarik. Karena bulan yang indah memang hanya muncul saat malam hari bukan?
Mungkin suatu hari nanti aku bisa mengajakmu ke langit;
Bermain disana, hingga kamu lupa bahwa dulu kita tidak saling mengenal.
Berbagi cerita, seolah tak ingin waktu menghentikan kita.
Bercanda, hingga yang melihat kita iri dan ingin mengikuti.
Tapi takkan kuizinkan.
Karena yang aku inginkan, hanya langit dan dirimu.
Minggu, 05 Oktober 2014
Lara dalam Lara
Aku berdiri dalam kesunyian, bernyanyi dalam kesenduan, menangis dalam keinginan.
Matilah aku, mencintai kamu yang masih merindukan seorang lain.
Matilah aku, merindu pula pada sosokmu seperti dirimu merindu pada sosoknya yang kau cinta.
Ingin ku gapai tubuhmu, namun sayang kamu lebih memilih gelap bayangnya.
Bayangan akan masa lalu yang tak kunjung hilang bersama kepergiannya.
Sampai kapan kamu masih merindu akan sosoknya yang tak bisa kau gapai untuk selamanya.
Bodoh sekali aku, terpaku dalam impian mustahil untuk memiliki dirimu.
Pun sama seperti dirimu, merindu pada bayangan masa lalu, pada sosoknya yang telah berlalu.
Pantas kah aku bersaing dengan bayang-bayang gelap yang selalu dirindunya?
Haruskah aku menjadi bayangan seperti dirinya yang selalu dirimu rindukan?
Aku terjebak, dalam perselisihan dengan batin. Antara menetap atau merelakan, aku tak tahu, aku terlalu cinta, terlalu ingin akan sosokmu.
(Randit Firmansyah)
Matilah aku, mencintai kamu yang masih merindukan seorang lain.
Matilah aku, merindu pula pada sosokmu seperti dirimu merindu pada sosoknya yang kau cinta.
Ingin ku gapai tubuhmu, namun sayang kamu lebih memilih gelap bayangnya.
Bayangan akan masa lalu yang tak kunjung hilang bersama kepergiannya.
Sampai kapan kamu masih merindu akan sosoknya yang tak bisa kau gapai untuk selamanya.
Bodoh sekali aku, terpaku dalam impian mustahil untuk memiliki dirimu.
Pun sama seperti dirimu, merindu pada bayangan masa lalu, pada sosoknya yang telah berlalu.
Pantas kah aku bersaing dengan bayang-bayang gelap yang selalu dirindunya?
Haruskah aku menjadi bayangan seperti dirinya yang selalu dirimu rindukan?
Aku terjebak, dalam perselisihan dengan batin. Antara menetap atau merelakan, aku tak tahu, aku terlalu cinta, terlalu ingin akan sosokmu.
(Randit Firmansyah)
Langganan:
Komentar (Atom)