Selasa, 16 September 2014

Elegi Setelah Rindu

Ada hati yang hilang ketika kita begitu saja melepas kesetiaan yang mahal. Baru saja ingin memulai kisah baru, ternyata kepingan luka masih berhamburan memecah seisi raga. Aku terdepak diantara cecerannya yang terjal. Mungkin lagi, memang diriku sudah tak berarti lagi dimatamu, sudah tak mampu lagi untuk sekedar menemuimu lalu berkata perihal perpisahan kita diantara dinginnya malam kala itu. Ketika itu kau tatap lamat lamat mataku, kau pegang kedua pipiku dan sekaligus menghadirkan getaran di dadaku. Setelah malam yang memilukan itu, aku bersandar—mengenang apa yang baru saja ia katakan. Semudah itukah kau melepas semua janjimu? Semudah itukah kau melepas perasaan yang ku jaga baik-baik untukmu? Perlu kau tahu, tak ada perpisahan tanpa menghasilkan rindu. Apa kau bisa bayangkan setelah ini hidupku akan berjalan baik-baik saja? Nyatanya tidak, meski aku tetap menunjukkan raut bahagia diantara teman dan orang-orang di sekitar ku—disaat diriku sedang menyendiri, mengatur nafas agar batin ku tak sesak disitulah semua terjadi. Aku kalut kala mencoba membiarkan kepergian mu yang mungkin bagiku sementara. Tapi, sejauh ini kau tak menunjukkan kehadiran untuk kembali. Aku merasa sebagian rusukku patah, lalu menghilang meninggalkan bekas pelukanmu yang sudah usang. Setelah malam itu, dunia serasa berbeda. Tak ada waktu yang ku nikmati lagi ketika segurat bintang memancarkan cahaya, ketika senja yang datang dengan indah ku biarkan begitu saja berlalu. Sebab kesendirian setelah kau tinggalkan menjadi kisah kesepian ku selama ini. Seseorang banyak menemuiku untuk tetap menerima keputusannya, maka sudah ku ikhlaskan jauh sebelum itu. Aku hanya tak mampu mencegah rindu, Aku hanya tak mampu lepas dari bayangnya, yang datang seketika menghentikan nadi beberapa saat. Aku hanya tak mampu menahan tangis, ketika ku lihat dia berjalan santai dengan sosok barunya. Mungkin jika diri ini salah, dan terlalu berharap lebih padamu, aku undur diri

(Randit Firmansyah )

Jumat, 12 September 2014

perbatasan

Mungkin saat ini saya masih bisa memendamnya dalam diam, atau bahkan membiarkannya hilang bersamaan rintik hujan di luar. Mungkin sekarang semesta sedang mempermainkan saya, atau bahkan saya yang menjadi dalang penentu jalannya pertunjukan. Mungkin saya bisa mencari tabib dan bertanya 'apakah anda bisa menutup luka hati saya yang menganga?' Kemungkinan yang entah harus saya semogakan atau ditiadakan, saya bingung, sebenarnya kamu ini penawar atau penyebab semua luka? Kamu enggan membuat rindu membenci saya, tetapi kamu senang mengirimkan luka lewat perantara. Dan pada akhirnya pertanyaan saya hanya satu, kenapa? Kenapa kau tidak meluruhkan saja saya bersama hujan yang turun? Biar saya berlalu dan tak terlalu lama menunggu di perbatasan waktu.

(Randit Firmansyah)