Senin, 28 Maret 2016
[Aku, Kamu, dan Dia Yang Pernah Hadir di Hidupmu]
Bisakah sejenak kita melupakan dia? Dia yang pernah hadir di hidupmu?
Pikiran ini lelah untuk terus membanding-bandingkan seberapa baik diriku untukmu, atau seberapa baik dia untukmu, dulu?
Bahkan kamu masih ingat tempat terindah kalian berdua. Aku hanya bisa tersenyum.
Aku disampingmu, setia mendengarkan ceritamu tentang dia. Kurang baik apa aku, memendam api di dalam dada saat kau bercerita tentang dia.
Kurang kuat apa aku, menahan air mata ini agar tidak jatuh setetes pun dihadapanmu saat kau bercerita tentang dia.
Kurang hebat apa aku menahan gemuruh amarah yang berkecamuk ingin keluar dari dalam hati saat kau bercerita tentang dia.
Apa semua yang ku lakukan selalu kurang untukmu? Lalu apa kelebihan ku dimata mu?
Kelebihan ku adalah, bisa mengisi kekosongan hatimu disaat 'dia yang pernah ada dihatimu' pergi.
Sabtu, 12 Maret 2016
Apalah
Harapan yang hembus lewat doa belum menjadi nyata,
Rindu yang menyamar lewat tangis juga tak lagi ia dengar.
Segala hal yang menyangkut dirimu hadir beriringan dengan hujan,
menguatkan kembali ingatan yang sudah lama coba ku hilangkan.
Disitu semua tumpah,
Berbagai perasaan hinggap di bias luka.
Mendung semakin mendung,
Gelap pekat menumpahkan lirih.
Kecewa tertawa,
Sedih bertanya kenapa?
Mungkin hati belum sepenuhnya menerima
sebab, yang kau temui hanya kegagalan.
Betapa sulitnya bertahan dengan kepercayaan,
Sedang dirinya enggan mengerti dan terus menggantung tanya.
Sudah, sudah seharusnya kau lari.
Perlahan dengan kepastian.
Tinggalkan kecewa-kecewa yang terlanjur,
lupakan kesedihan-kesedihan yang melekat.
Ia pun sudah jauh berpulang dari hatimu.
Tanpa pesan atau titipan rindu.
Ia pun berlalu semakin tak kau jangkau.
Hanya membiarkanmu tertatih di siksa keadaan.
Jangan seperti itu, hiduplah seperti warna jingga di langit,
walaupun harus melalui gelap pekat,
indahnya akan terlihat begitu sempurna setelahnya.
Kamu itu cantik, sayang kalau harus ada airmata yang terus turun hanya karena kebodohan setelah ditinggal pergi dengan percuma.
Rindu yang menyamar lewat tangis juga tak lagi ia dengar.
Segala hal yang menyangkut dirimu hadir beriringan dengan hujan,
menguatkan kembali ingatan yang sudah lama coba ku hilangkan.
Disitu semua tumpah,
Berbagai perasaan hinggap di bias luka.
Mendung semakin mendung,
Gelap pekat menumpahkan lirih.
Kecewa tertawa,
Sedih bertanya kenapa?
Mungkin hati belum sepenuhnya menerima
sebab, yang kau temui hanya kegagalan.
Betapa sulitnya bertahan dengan kepercayaan,
Sedang dirinya enggan mengerti dan terus menggantung tanya.
Sudah, sudah seharusnya kau lari.
Perlahan dengan kepastian.
Tinggalkan kecewa-kecewa yang terlanjur,
lupakan kesedihan-kesedihan yang melekat.
Ia pun sudah jauh berpulang dari hatimu.
Tanpa pesan atau titipan rindu.
Ia pun berlalu semakin tak kau jangkau.
Hanya membiarkanmu tertatih di siksa keadaan.
Jangan seperti itu, hiduplah seperti warna jingga di langit,
walaupun harus melalui gelap pekat,
indahnya akan terlihat begitu sempurna setelahnya.
Kamu itu cantik, sayang kalau harus ada airmata yang terus turun hanya karena kebodohan setelah ditinggal pergi dengan percuma.
Langganan:
Komentar (Atom)